Kamis, 12 Februari 2015

Quasi Paroki St. Yohanes Maria Vianey Donggo




Secara geografis Quasi Paroki Donggo terletak di wilayah Kecamatan Donggo Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Paroki Donggo merupakan gabungan dari tiga dusun yakni Tolonggeru yang juga adalah pusat paroki,Mbawa dan Nggerukopa.Stasi Mbawa terletak sekitar 15 km ke arah timur dari Tolonggeru sedangkan stasi Nggerukopa sekitar 7 km dari Tolonggeru ke arah barat. Sebelum tahun 2004 Quasi Paroki Donggo merupakan stasi dari Paroki Raba Bima. Uskup Denpasar Mgr.Dr.Benyamin Yoseph Bria,Pr pada tahun 2004 menetapkan Donggo sebagai Quasi Paroki. Buku permandian mulai tahun 2000.

Secara umum jumlah umat katolik Quasi Paroki St. Yohanes Maria Vianey Donggo 1.524 jiwa. Mayoritas berprofesi sebagai petani, dan sebagian kecil berprofesi sebagai PNS, karyawan swasta dan kaum buruh di Kota Bima.
Situasi panggilan khusus di Paroki Donggo dapat digambarkan, dua suster asal Tolonggeru yakni Sr. Alfonsiana dan Sr. Agustina. Belum ada imam baik praja maupun biarawan dan bruder yang berasal dari paroki Donggo. Namun aksi panggilan terus dilakukan agar suatu saat Donggo dapat melahirkan para imam baik praja maupun biarawan.
Untuk mengelola Quasi Paroki bersama dengan Pastor Paroki Donggo Rm. Paulus Seran,Nahak,Pr dibentuk Dewan Pastoral Paroki. Karya pastoral yang menonjol di Quasi Paroki Donggo adalah katekese umat, katekese sekolah dan karya kesehatan. Katekese umat dilaksanakan di KBG masing-masing sedangkan katekese sekolah dilaksanakan oleh para katekis yakni katekis John Darwis untuk Tolonggeru, Ignatius Ismail untuk Stasi Mbawa dan Andreas Pasa untuk Nggerukopa. Mereka dengan setia memberikan pelajaran agama katolik bagi anak-anak sekolah dasar, SMP dan SMA.Pelayanan kesehatan di Stasi Mbawa ditangani oleh suster-suster JMJ dari Bima. Namun tidak setiap hari. Para suster mengunjungi Mbawa sekali sebulan. 
Dalam perjalanan sejarahnya, umat katolik di Donggo mendapat ujian iman melalui peristiwa tahun 1969 dimana semua bangunan gereja di Tolonggeru, Mbawa dan Nggerukopa dibakar massa serta orang-orang katolik dipaksa pindah agama. Namun semua masalah dan salah pengertian bisa teratasi. Pada bulan Desember 1969 umat katolik yang dipaksa pindah agama dapat kembali ke gereja katolik setelah Bimas Katolik Provinsi NTB waktu itu Paulus Boli melakukan pendekatan dengan pemerintah Kabupaten Bima.Umat katolik di Donggo sudah ada sejak sebelum tahun 1960.
Di Tolonggeru, umat katolik sudah ada sejak tahun 1960.  Umat tergabung dalam 8 Komunitas Basis Gerejawi. Karya pastoral yang menonjol di Tolonggeru adalah bidang pembinaan iman khususnya katekese umat dan katekese sekolah. Pendidikan agama bagi anak-anak sekolah dasar sampai sekolah menengah umum diberikan oleh katekis Tolonggeru Jhon Darwis. Mayoritas umat di Tolonggeru yakni hamper 90 persen adalah petani. Sebagian kecil sebagai pegawai negeri sipil, karyawan swasta dan buruh di kota Bima. Kelompok kategorial yang ada di Tolonggeru adalah Mudika dan Sekami.
Di Stasi Mbawa,Kapela pertama didirikan pada tahun 1963 oleh P.Heribertus Kuper,CssR yang menjadi pastor di Bima pada tahun 1963.Gereja tersebut dibakar massa pada peristiwa 1969. Namun kemudian dibangun kembali pada masa Romo Domi Rua Dapa menjadi Pastor Paroki Bima. Kapela tersebut dirobohkan dan dibangun kembali gereja yang sekarang ini yang menurut rencana akan diresmikan oleh Uskup Denpasar Mgr. Silvester San,Pr dalam waktu dekat. Umat katolik di Mbawa bermula pada tahun 1964 empat keluarga dibaptis menjadi katolik. Dan sejak itu gereja di Mbawa terus berkembang. Saat ini jumlah umat katolik di Mbawa 800 jiwa atau 192 kepala keluarga.
Kelompok kategorial antara lain Mudika dengan anggota aktif 25 orang dan Sekami dengan anggota aktif 120 orang. Karya pastoral yang menonjol adalah bidang pembinaan umat yakni katekese umat dan katekese sekolah. Pendidikan agama bagi sekolah dasar, SMP dan SMA diberikan oleh katekis Ignatius Ismail. Pelayanan kesehatan juga diberikan satu kali sebulan oleh suster-suster JMJ dari Bima. Mayoritas umat di Mbawa adalah petani, sebagian kecil PNS dan karyawan swasta yang bekerja di Bima serta buruh.
Sedangkan di Stasi Nggerukopa menurut Ketua Dewan Pastoral Paroki Donggo Alfons Subu jumlah umat saat ini 41 kepala keluarga atau sekitar 164 jiwa. Umat tergabung dalam 2 Komunitas Basis Gerejawi. Karya pastoral yang menonjol adalah bidang pembinaan iman umat yakni katekese umat dan katekese sekolah. Pendidikan agama katolik bagi murid Sekolah Dasar sampai dengan SMA diberikan oleh katekis Andreas Pasa. Mayoritas umat Nggerukopa bermatapencarian sebagai petani. Saat ini umat sedang membangun gereja baru yang secara fisik sudah selesai 90 persen. Direncanakan dalam waktu dekat gereja ini akan diresmikan oleh Bapa uskup Denpasar.
Pastor-pastor yang pernah melayani Quasi Paroki Donggo adalah P.Heribertus Kuper,CssR (1963 -1968), P.George Kiwus CssR (1969-1970), Romo Dominikus Rua Dapa,Pr (1970-1974), P Thomas Tepho,SVD (1974-1978), P.Tarsisius Widyono,SJ (1978-1974). Sejak 1975 sampai dengan tahun 2004 umat Donggo dilayani oleh P.Mikael Migeraya,SVD, P.Yan Djuang Somi,SVD, P.Piet Pido,SVD, P.Paulus Barekama,SVD, dan Rm. Kristianus Min Isti,Pr. Kini Rm. Paulus Bere Nahak,Pr dipercayakan sebagai Pastor Paroki.***

Paroki St. Yusuf Raba Bima




 Paroki St. Yusuf Raba Bima meliputi wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima bagian timur.Umat katolik di Kota Bima tersebar hampir di seluruh kota Bima sedangkan di Kabupaten Bima umat katolik bermukim di Kecamatan Sape. Pusat paroki berada di Jalan Pepaya No 1 RT 05 RW 02 Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Rabangodunae Selatan Kota Bima. Jarak dari pusat paroki ke Sape 52 km ke arah timur atau ke arah pelabuhan penyeberangan Sape


Umat tergabung dalam komunitas basis gerejawi dan stasi. KBG yang ada di Paroki Raba Bima adalah KBG St. Dominikus yang diketuai Lasarus Misa, KBG St. Agustinus dengan ketuanya Merry Anwar, KBG St. Fransiskus diketuai Maximus Watu, St. Arnoldus Yansen dengan ketuanya Frans Pega, St. Stefanus dengan ketua Herman Hasu, St. Paulus belum ada ketua, St. Petrus dengan ketua Donatus Raga,St. Mikael ketuanya Flavianus Bura, St. Sisilia ketuanya Kristina Urbanus dan Stasi Sape dengan ketua Maximus Godfridus Syukur. 

Karya pastoral yang menonjol di Paroki Raba Bima adalah bidang kesehatan. Sebuah poliklinik pelayanan kesehatan dibuka di paroki ini dan dikelola oleh suster-suster JMJ. Saat ini dua suster berkarya dalam pelayanan kesehatan yakni suster Daniela,JMJ dan Suster Fabiola,JMJ. Ada usaha untuk membuka Balai Pengobatan namun selalu terbentur pada perijinan sehingga sampai saat ini baru bisa dibuka poliklinik. Tak ada karya pendidikan di paroki Raba Bima.Meski demikian pendidikan agama katolik bagi anak-anak sekolah dan mahasiswa tetap menjadi perhatian gereja. Para siswa dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dilayani oleh para katekis dan pastor. Proses belajar mengajar diselenggarakan di gereja untuk menghindari isu kristenisasi.
Panggilan di Paroki Raba Bima sampai tahun 2010 ini belum menggembirakan. Data memperlihatkan belum ada seorang imam pun baik praja maupun biarawan yang berasal dari Paroki Raba Bima. Namun ada 1 bruder SVD dan 1 suster yang berasal dari paroki ini. Biarawan dan biarawati yang berkarya di Raba Bima adalah 2 biarawan SVD dan 3 biarawati SSpS. Minggu pagi di Gereja Raba-Bima Jl. Pepaya No.1 Raba Bima jam 08.00 Wita. Minggu sore misa di Kaple Sape jam 16.30 Wita.

Paroki St. Yusuf Raba Bima diresmikan oleh Uskup Weetebula Mgr.Haripranata,SJ pada tahun 1975. Waktu itu Pulau Sumbawa merupakan wilayah gerejawi Keuskupan Weetebula. Saat resmi menjadi paroki, wilayahnya meliputi Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.Kota Bima belum terbentuk sebagai KotaMadya atau yang kini dikenal sebagai Pemerintahan Kota Bima.Paroki Raba Bima harus melayani umat katolik yang bermukim di stasi Sape, Stasi Donggo,Stasi Dompu dan Kota Bima.Dalam perjalanan waktu St¬¬asi Dompu menjadi paroki dan Stasi Donggo menjadi Quasi Paroki. Saat ini Paroki St. Yusuf Raba Bima melayani umat yang bermukim di Kota Bima dan di Stasi Sape.
Sejak menjadi paroki tahun 1975, karya pastoral di Paroki St. Yusuf Raba Bima diserahkan kepada imam-imam Serikat Sabda Allah dari Provinsi SVD Ruteng. Karena itu sejak tahun 1975 imam-imam SVD diutus ke Bima untuk melayani umat di Sape, Donggo, Bima dan Dompu.
Imam-imam yang pernah melayani Paroki Raba Bima adalah P. Heribertus Kuper,CssR, P.George Kiwus,CssR, Romo Dominikus Rua Dapa,Pr, P.Thomas Tepho,SVD, P. Tarsisius Widyana,SJ, P.Mikael Migeraya,SVD,P. Yohanes Djuang Somi,SVD dan kapelan P.Piet Pido Neo,SVD, P.Paulus Barekama,SVD dibantu Romo Kristianus Min Isti,Pr, P Romualdus Pitan Kotan SVD dibantu Romo Paulus Seran,Pr, P Marsel Nahas,SVD, dan P.Fransiskus Mansen,SVD. Saat ini  Rm. Romualdus Pitan,SVD dipercayakan sebagai Pastor Paroki. Alamat yang bisa dihubungi: Gereja Katolik  Raba Bima, Jalan Pepaya No 1 Raba Bima NTB.***


Paroki St. Maria St. Yoseph Dompu



Profil Paroki: Gereja Katolik Dompu meliputi wilayah Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pusat paroki berada di Kota Dompu, tepatnya di Jalan Pinus No . 3 Dompu. Umat katolik tersebar di beberapa tempat antara lain di Stasi Tambora/Huu, Stasi Calabay, Stasi Huu/Lakely, Stasi Soriutu dan Stasi Soro/Kempo. Jarak stasi-stasi ini dari pusat paroki di atas 50 km.
 KBG yang ada, St. Aloysius Gonzaga dengan ketua Herman Jeman,Dompu Tengah dengan ketua Herman Jehuru, Dompu Barat dengan ketua Severinus Sinar. Sedangkan stasi-stasi yakni stasi Lakey/Huu dengan ketuanya Victor, jumlah umat 50 orang, stasi Soriutu/Kempo jumlah umat 15 orang dan stasi Calabay jumlah umat 30 orang.

Karya pastoral yang menonjol di Paroki Dompu adalah pendidikan dan bidang pembinaan iman. Untuk pendidikan, saat ini terdapat Taman kanak-Kanak Slamet Riyadi yang dikelola oleh suster-suster JMJ. Sedangkan pendidikan agama katolik untuk murid-murid sekolah dasar diselenggarakan di sekolah dan dibina oleh Melkisedek Ranggalehu, pelajaran agama untuk siswa-siswi SMP oleh Kanis Mbira dan untuk siswa-siswi SMA diberikan oleh katekis paroki A Sukarto.
Sampai saat ini belum ada seminaris, imam praja maupun imam biarawan, bruder, frater dan suster yang berasal dari Paroki Dompu.Namun, aksi panggilan khususnya pada saat merayakan hari panggilan sedunia terus dilakukan untuk menarik minat anak-anak masuk seminari atau masuk biarawati.
Misa hari Minggu pagi di Gereja Paroki jam 08.00 wita. Misa harian, jam 06.00 pagi, hari Senin, Rabu dan Jumat di Gereja paroki sedangkan hari Selasa, kamis dan Sabtu di Kapela susteran JMJ. Jumat pertama misa jam 17.30 wita. Misa bulanan di Stasi Tambora/Calabay setiap Minggu ke-4, Huu/Lakey setiap Rabu pertama, Soriutu setiap Rabu kedua, Soro/Kempo setiap Rabu ketiga.


Sebelum menjadi paroki pada 29 September 1995, Paroki Dompu merupakan stasi dari Paroki Raba Bima. Paroki ini ditetapkan sebagai paroki oleh Uskup Denpasar waktu itu Uskup Vitalis Djebarus,SVD. Namun buku permandian sudah sejak tahun 1973. Pembangunan Gereja secara permanen dilakukan sejak tahun 1981. Berbagai tantangan menghadang usaha untuk mendapatkan ijin pembangunan gereja namun akhirnya Gereja yang sekarang ini dapat diresmikan pada tanggal 29 September 1995 oleh Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dan pengguntingan pita dilakukan oleh Ketua DPRD Dompu atas nama Bupati Dompu.
Sejak menjadi Paroki, berturut-turut yang menjadi Pastor Paroki adalah Romo Y. Handriyanto Wijaya,Pr yang bertugas sejak tahun 1994 sampai 23 Februari 1998 kemudian digantikan oleh Rm. Bartholomeus Bere,Pr yang bertugas sejak 23 Februari 1998 sampai dengan 1 Januari 2003. Tanggal 1 Januari 2003 sampai dengan 24 Januari 2010 pastor paroki dijabat oleh Rm. Agustinus Sugyarto,Pr dan sejak tanggal 24 Januari 2010 Romo Martinus Emanuel Ano,Pr dipercayakan sebagai kepala paroki.
Sebelum tahun 1974, paroki ini dilayani oleh pastor paroki maupun pastor kapelan dari Paroki Raba Bima. Dengan demikian umat katolik Dompu pernah dilayani oleh P. Heribertus Kuper,CssR (1963-1968), P. George Kiwus,CssR (1969-1970) dan Rm. Dominikus Rua Dapa (1970 – 1974). Antara tahun 1974 sampai dengan tahun 1994, umat katolik Dompu mendapat pelayanan dari pastor paroki Raba Bima yakni P. Thomas Tepho, (1974-1978) dan P. Tarsisius Widyono,SJ dari 1978 sampai 1994.


Paroki Sang Penebus Sumbawa


Paroki Sang Penebus Sumbawa meliputi dua wilayah kabupaten yakni Kabupaten Sumbawa Besar dan Kabupaten Sumbawa Barat. Pusat paroki berada di kota Sumbawa Jalan Diponegoro 34 RT 008 RW 02 Kelurahan Uma Sima, Kecamatan Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Umat katolik berhimpun dalam Komunitas Basis Gerejawi dan stasi-stasi. Sampai sekarang terdapat stasi-stasi Alas, Maluk (Kabupaten Sumbawa Barat), Maronge, dan Tanjung Menangis. Umat katolik tersebar di hamper seluruh wilayah Sumbawa, di Empang bagian timur, Alas di bagian barat dan di selatan Kecamatan Lunyuk. Sedangkan di Kota Sumbawa, selain gereja paroki ada dua kapela yakni di Kompi Senapan B yang dibangun oleh umat katolik dan kapela kuburan Kebayan.

Karya-karya pastoral di bidang kesehatan antara lain poliklinik Sinar Harapan yang dikelola oleh suster-suster JMJ dan mendapat simpatik secara luas bagi masyarakat non katolik. Karya pastoral di bidang pendidikan adalah persekolahan dibawah asuhan Yayasan Insan Mandiri Cabang Sumbawa yang mengelola TKK Sari Asih, SDK Diponegoro, SMP Diponegoro dan SMAK St. Gregorius. Semua sekolah ini berada satu kompleks dengan gereja. Sedangkan kelompok kategorial yang ada antara lain Orang Muda Katolik, karismatik dan Legio Maria.
Panggilan di Paroki Sumbawa dapat dikatakan cukup subur. Terbukti dari paroki ini telah lahir sejumlah imam, dan suster. Imam-imam baik praja maupun biarawan yang berasal dari Paroki Sang Penebus Sumbawa adalah P. Sebastianus Anidato,CssR sekarang Provinsial CssR di Weetebula Sumba, Pastor Efrem Boli,CssR kini belajar di Filipina, P.Erick Huler,SVD kini misionaris di Brasil dan Rm. Sebastianus Yordan Ado,Pr kini pastor pembantu di Kuta Bali. Seorang diakon yang segera ditahbiskan adalah Diakon Paskalis Sugi,CICM dan seorang frater SVD yakni Fr. Yanto,SVD yang masih belajar di Malang. Dua suster juga berasal dari paroki ini yakni Sr. Nela dan Sr. Neli, kembar dan merupakan adik kandung dari P. Sebastianus Anidato,CssR.

Tahun 1928 dicatat sebagai tonggak sejarah hadirnya agama katolik di Sumbawa. Pada tahun 1930 Sumbawa dikunjungi oleh Mgr. A.Vestraelen,SVD dan tanggal 15 Februari 1933 datang lagi seorang pastor dari Flores yakni P.J.Desser,SVD yang berkarya di Sumbawa dan mengajar agama katolik serta mempermandikan umat. Tahun 1934 banyak penduduk yang simpatik dengan agama katolik dibaptis oleh P. Yohanes van der Heijden,SVD yang berkarya di Pulau Lombok. Buku permandian mulai tahun 1937.

Tahun 1973 saat itu Paroki Sumbawa masih merupakan wilayah dari Keuskupan Weetebula dan ditetapkan menjadi paroki pada tahun 1973. Namun buku permandian sudah sejak tahun 1937. Paroki Sumbawa bersama dengan paroki-paroki lainnya di pulau Sumbawa bergabung dengan Keuskupan Denpasar pada 24 November 1990 setelah Mgr. Kherubim Pareira,SVD Uskup Weetebula menyerahkan secara resmi kepada Mgr. Vitalis Djebarus,SVD Uskup Denpasar. Peristiwa itu berlangsung di Gereja Sang penebus Sumbawa Besar disaksikan oleh Provinsial SVD Ruteng P.Frans Pora,SVD dan Provinsial SVD Jawa Bali P.Siprianus Setyawan,SVD.
Sejak tahun 1973, secara berturut-turut Paroki Sang Penebus digembalakan oleh P.A. Pohl,CssR (1973-1975), P.Gregorius Kiwus,CssR ( 6 April 1975 – 8 Juni 1975), P.A. Pohl,CssR (24 Juli 1975-1979), P.H. Ruffing,CssR (1979-1980),P. Lukas,CssR ( 1980-1984), P.Benhard,CssR ( 6 Mei 1984-4 November 1984), P. Lukas,CssR (2 Desember 1984 – 1990) sekaligus mengakhiri masa pengabdian imam-imam redemtoris di bumi Sumbawa. Namun demikian jasa para imam CssR tetap terukir dalam sejarah Gereja Sumbawa.
Setelah diserahkan kepada Keuskupan Denpasar, para imam yang diberikan kepercayaan untuk memimpin paroki ini adalah P.Thomas Tepho,SVD (1985-1990), Rm. Lucius Nyoman Purnawan,Pr (1990-1994), Rm. Damianus Djanggu,Pr (1994-1997) dan pastor kapelan Rm. Evensius Dewantara,Pr (20 Oktober 1996). Selanjutnya Rm. Evensius Dewantara Boli Daton,Pr dipercayakan sebagai pastor paroki (1997-1999) dengan dua pastor kapelan masing-masing Rm. YB I Nyoman Suryana,Pr ( 10 Desember 1997) dan Rm. Paulus Seran Nahak,Pr ( 1 Desember 1998).
Pengganti Romo Eventius adalah Rm. Yohanes Nurung,Pr (2000-2001) dengan pastor kapelan Rm.Paulus Seran Nahak. Tahun 2001-2005 pastor paroki dijabat Rm. Paulus Seran Nahak,Pr dan pastor kapelan Rm. Ignatius I Gede Adiamika Susila Pr ( 1 Mei 2004- 30 Desember 2005). Sejak tahun 2006 Pastor Paroki Sumbawa dijabat oleh Rm. Ignatius I Gede Adiamika Susila Pr dan pastor kapelan  Rm. Klemens Bere,Pr yang bertugas sejak 5 Februasi 2010 sampai sekarang.

Paroki St. Yohanes Pemandi Praya




Wilayah Paroki St. Yohanes Pemandi Praya meliputi Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur. Pusat Paroki berada di Jalan Guru Lopan 23 Praya-Lombok Tengah RT VI Kampung Sobirin Kelurahan Prapen Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Paroki ini pernah menjadi stasi dari Paroki St. Maria Immaculata Mataram pada tahun 1978 yang dirintis oleh Rm. Marsel Gde Miarsa,Pr.  Buku permandian sejak tahun 1995.Saat ini menjabat sebagai pastor paroki Romo Laurensius Maryono,Pr yang mulai bertugas sejak Januari 2010 sedangkan pastor pembantu adalah Romo Yohanes Kadek Aryana,Pr yang bertugas sejak tahun 2006 dan Rm. Eligius Adi Wahyu,Pr. Petugas pastoral lainnya adalah katekis Mikael Nomite yang bertugas sejak tahun 1992.
 Umat Katolik Praya dari penuturan beberapa orang khususnya Bapak (Almarhum) Haji Lalu Muhamad, mertua dari bapak Sellerinus Nurak, sudah ada sekitar tahun 1952. Fakta ini dibuktikan dengan adanya bangunan gereja oleh Belanda. Tapi hingga sekarang tidak tahu jejaknya. Dari buku permandian Gereja Katolik Santa Maria Immaculata Mataram diketahui ada 3 orang dari Praya yang dibaptis pada tahun 1926. Namun fakta riil mengatakan keberadaan umat katolik Praya sejak tahun 1958. Mereka adalah anggota Polri dan TNI yang berasal dari NTT dan Ambon. Ibadat hari minggu dan perayaan ekaristi dilakukan di ruang tamu asrama anggota polri.
Pada tahun 1995 stasi Praya ditingkatkan menjadi Paroki dengan nama pelindung Santo Yohanes Pemandi yang meliputi Praya (kabupaten Lombok Tengah) dan Selong-Pringgabaya (Kabupaten Lombok Timur). Dan Pastor Paroki Praya adalah P. Thomas Tehpo, SVD.
Pada tahun 1995 dibangun juga sebuah Pastoran dan gudang yang kemudian dimodifikasi untuk tempat ibadat (gereja). Hal ini dilakukan karena kesulitan mendapatkan izin. Pada tahun 1996 Pater Thomas, tokoh umat (bapak Fernandez, Kristoforus Tue) dan beberapa personil TNI Kompi bantuan Pringgabaya yakni bapak Marsel dan bapak Yosef Barinto melobi Komandan Kompi Bantuan Pringgabaya untuk dapat membangun sebuah tempat ibadat bagi anggota TNI yang katolik juga umat katolik selain TNI. Maksud baik tersebut di terima, maka dibangunlah sebuah kapela. Sementara itu umat katolik yang ada di Selong tetap merayakan misa atau ibadat minggu di gereja eukumene dalam kompleks Polres Lombok Timur hingga sekarang ini.
Pada 7 September 1998 Pastoran dan gudang (gereja) dibakar massa. Sejak saat itu umat katolik Praya mengalami kesulitan tempat ibadat. Tempat ibadat berpindah-pindah, dari aula kantor yang satu ke aula kantor yang lain. Pada 17 Januari 2000 terjadi kerusuhan Mataram. Rasa takut, cemas juga melanda umat Paroki Praya yang meliputi dua (2) kabupaten ini. Trauma yang mendalam ini membuat banyak umat yang kembali ke daerah asalnya Jawa dan NTT. Jumlah umat menurun drastis. Dari jumlah kurang lebih 500 jiwa tinggal 150 jiwa.
Pada akhir tahun 2000 P. Rosarius Geli, SVD Pastor Paroki St. Maria Immakulata Mataram yang juga Deken NTB, merangkap sebagai sebagai Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya. Kini Romo Laurensius Maryono, Pr, Pastor Paroki St. Maria Immakulata Mataram merangkap sebagai Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Praya hingga sekarang ini.
Paroki Praya pernah dilayani oleh P. Leon March, SVD, P. Flasca, SVD, P. Balhorn, SVD, P. Andreas Ade, SVD, Romo Marsel Gde Miarsa, Pr, Pastor Giron, P. Siprianus Setiawan, SVD, P. Yan Tanuwijaya, SVD, Romo Philipus Wayan Jaya, Pr, P.Siprianus Setiawan,SVD, P.Mikael Migeraya, SVD, P.Thomas Tepho,SVD, P.Mateus Dile Keraf , Rm.Ignatius I Gesde Adiamika Susila,Pr, Rm. Yohanes Kadek Aryana,Pr,P.Lodovikus Pake,SVD dan kini Rm.Laurensius Maryono,Pr ditunjuk sebagai Pastor Paroki Praya.