Friday, December 15, 2017

Tahun 2018: 
Gerakan Kepemimpinan Pastoral


SINODE IV Keuskupan Denpasar yang telah ditutup pada Kamis 30 November 2017 telah berhasil merumuskan Arah Dasar Keuskupan Denpasar, Visi, Misi, Spiritualitas Keuskupan Denpasar dan Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2018-2022. 
          Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2018-2022  dilaksanakan  dengan melaksanakan karya pastoral sesuai dengan tema  setiap tahun. Pada tahun 2018 tema pastoral Keuskupan Denpasar adalah “Kepemimpinan Pastoral”.  Kepemimpinan dalam Gereja bersifat pelayanan dan selalu dalam konteks kebersamaan atau kolegial. Yesus  Sang Gembala Baik melayani umat dengan murah hati dan mengenali  umat-Nya. Gembala  yang selalu mendengar keluhan dan kebutuhan umat.
       Meneladani model kepemimpinan Yesus Gembala Yang Baik yang melayani dengan murah hati, teladan bagi semua orang yang terlibat dalam pelayanan dan dipanggil oleh Roh yang satu untuk bekerjasama (kolegialitas dan partisipatif). Pelayanan Gereja berciri kolegialitas dan partisipatif seperti anggota-anggota satu tubuh bekerja sama demi kesejahteraan tubuh itu.
     Kepemimpinan Pastoral perlu dipersiapkan dengan baik. Sinode meminta adanya peningkatan kualitas kepemimpinan dan kaderisasi calon pemimpin pastoral. Agar kaderisasi kepemimpinan diarahkan untuk menghasilkan seorang pemimpin Gembala Yang “Berbau Domba”. Pemimpin yang demikian itu memiliki ciri-ciri: Visioner, kreatif, inovatif, melayani, terlibat, beradaptasi dengan umat dan sesuai perkembangan zaman, rela berkorban, solider, mau mendengar, transformatif, militan, kerja keras, profesional dalam melayani.


      Pada akhirnya pemimpin yang kita inginkan dalam Sinode ini adalah pemimpin yang tangguh, mandiri dan bersaksi. Pemimpin yang dimaksudkan adalah pemimpin yang tertahbis (para imam), pemimpin terbaptis (katekis, awam, ketua lingkungan, ketua KBG, ketua OMK dan ketua kelompok kategorial). Mari kita sukseskan  Tahun 2018 sebagai tahun Kepemimpinan Pastoral.***
Arah Dasar, Visi, Misi, Spiritualitas dan Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2018-2022


SINODE IV Keuskupan Denpasar telah berhasil merumuskan dan menetapkan  Arah Dasar Keuskupan Denpasar, Visi dan Misi, Spiritualitas Keuskupan Denpasar  serta Srtategi Pastoral Keuskupan Denpasar  tahun 2018 - 2022.  
       Arah Dasar Keuskupan Denpasar 2018-2022  adalah; Menuju Gereja yang Beriman Tangguh, Mandiri dan Berani Bersaksi dalam Masyarakat Majemuk. Rumusan arah  dasar ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut: Pertama, Gereja. Gereja lokal mauopun universal itu berada di tengah dunia yang terus berubah di era digital dengan generasi milenialnya. Gereja lokal Keuskupan Denpasar terpanggil untuk hadir dan melaksanakan layanan pastoral di era milenial tersebut.
           Kedua, Gereja Beriman Tangguh. Menjadi Gereja yang Beriman Tangguh berarti kita memiliki iman yang  sungguh kuat, tidak terpengaruh oleh apapun dan siapapun, sampai kapapun dan dalam keadaan bagaimanapun meskipun menghadapi pelbagai macam godaan dan tantangan. Ketangguhan iman diuji melalui ketaatan kepada Yesus Tuhan dan misi-Nya di dunia.
        Ketiga, Gereja yang Mandiri. Kemandirian Gereja bukan hanya dalam bidang finansial melainkan juga tenaga (SDM) pastoral tertahbis maupun terbaptis. Mandiri yang kita tegaskan untuk menjadi pegangan Arah Dasar Keuskupan Denpasar adalah kemandirian dalam bidang spiritual, personalia dan finansial. Semua sarana pelayanan pastoral, gedung dan alat-alat komunikasi serta pelayanan pastoral dibiayai  oleh umat.
       Keempat, Gereja yang Bersaksi. Gereja yang bersaksi dimulai ndari dalam (membangun identitas dan karakter) dan bergerak ke luar (mewartakan-evangelisasi).       
          Gereja menjadi signifikan karena memiliki identitas, karakter melalui pembentukan iman sepanjang hayat. KBG sebagai sel kecil Gereja hendaknya dievangelisasi oleh Sabda Allah dan menjadi pelaku evangelisasi. Tujuan agar menjadi murid-murid Kristus dan kemudian keluar memberi kesaksian hidup sebagai garam dan terang dunia. Bergerak dari Sabda menjadi Kehidupan, dari Mimbar Allah ke Mimbar Pasar.

Visi dan Misi 2018-2022
Sinode IV  Keuskupan Denpasar berhasil merumuskan Visi dan Misi Keuskupan Denpasar 2018-2022. Visi Keuskupan Denpasar adalah: “Persekutuan Umat Katolik yang Beriman Tangguh, Mandiri, Solider dan Bersaksi dalam Masyarakat Majemuk”. 
     Ada 14 Misi  Keuskupan Denpasar  yakni: 1. Melakukan  formasi iman umat  sepanjang hidup (Katekese dan Liturgi). 2. Meningkatkan kualitas kepemimpinan pastoral melalui kaderisasi dan regenerasi. 3. Menumbuhkembangkan Gereja yang mandiri dan solider. 4. Mendorong umat untuk bersaksi dalam masyarakat majemuk. 5. Membangun semangat Evangelisasi dan perutusan dalam KBG. 6. Mengembangkan program pastoral kontekstual yang berbasis data. 7. Meningkatkan sinergisitas pelayanan pastoral mulai dari para pemimpin. 8. Meningkatkan kualitas pendidikan katolik. 9. Membina keluarga katolik sebagai ecclesia domestica (Gereja Rumah Tangga) yang sejahtera. 10. Menghimbau dan mendorong umat untuk tertib ber-KBG. 11. Menghadirkan Gereja dalam wajah budaya lokal. 12. Meningkatkan kesejahteraan umat melalui pemberdayaan ekonomi.13. Mendorong kaum awam untuk terlibat aktif di bidang politik. 14. Membangun Gereja yang terlibat aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Empat pilar: Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika).

          Spiritualitas Keuskupan Denpasar
Spiritualitas Keuskupan Denpasar adalah “Yesus Gembala Yang Baik (Bdk. Yoh 10:11-18). Spiritualitas model Yesus Gembala Yang Baik merupakan kristalisasi dari Gereja yang beriman tangguh, mandiri dan solider  serta bersaksi dalam masyarakat majemuk. Nilai-nilai yang terkandung  di dalamnya harus menjadi “roh”, “spirit” untuk menjalankan hasil Sinode IV antara lain: kepemimpinan yang melayani dengan murah hati, berkorban, mengarahkan, memberi semangat, ekerja keras, memberdayakan, visioner, inovatif-kreatif.
Strategi Pastoral
Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2018-2022 diwujudkan dalam Tema-Tema Pastoral. Adapun Tema Pastoral tahun 2018  adalah: Kepemimpinan Pastoral. Kepemimpinan pastoral perlu dipersiapkan dengan baik. Sinode meminta adanya peningkatan kualitas kepemimpinan dan kaderisasi calon pemimpin pastoral. Agar kaderisasi kepemimpinan diarahkan untuk menghasilkan seorang pemimpin gembala yang berbau domba.
         Tema Pastoral 2019: Formasi Iman yang Tangguh. Iman kristiani bertumpu pada iman Gereja Perdana yang menunjukkan ketaatan, kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Formasi iman yang tangguh mengamanatkan lima langkah: evangelisasi, katekese, kegiatan spiritualitas, keakraban dengan Sang Sabda, Liturgi dan katekisasi berjenjang mulai dari anak sampai nusia lanjut.
           Tema Pastoral 2020: Gereja yang Mandiri dan Solider. Gereja yang mandiri dan solider harus diupayakan dalam gerakan dan pembangunan Gereja Keuskupan Denpasar. Mandiri dan solider dimaksudkan dalam bidang spiritualitas, sumber daya manusia, ekonomi, finansial. Pengembangan sosial ekonomi melalui CU/Lembaga Keuangan Mikro, pelatihan-pelatihan keterampilan usaha kreatif. Solider dalam bidang pendidikan dengan Gerakan Dasopen dan kesehatan.
       Tema Pastoral  2021: Gereja yang Bersaksi. Umat katolik, kelompok-kelompok kategorial dan organisasi kemasyarakatan dilibatkan dalam menggarami dunia melalui kegiatan sosial kemasyarakatan bahkan politik. Gereja bersaksi dengan membangun dialog antar umat beragama untuk menumbuhkan sikap menghargai satu sama lain.


           Tema Pastoral 2022: Evangelisasi dan Perutusan dalam KBG. Evangelisasi dan Perutusan dalam KBG mengamanatkan untuk membangun KBG yang berkualitas yang disemangati evangelisasi untuk tujuan perutusan. KBG yang berkualitas itu  itu adalah yang kuat dalam iman karena hidup dalam Sabda Allah dan bersaksi dalam perutusan.***

P. YAN MADYA ADNYANA, SVDPASTOR PAROKI ST YOSEPH  DENPASAR 

Wawancara Dalam Rangka Sinode IV Keuskupan Denpasar

Pewawancara: Agustinus G. Thuru/Seksi Dokumentasi & Publikasi Panitia Sinode IV Keuskupan Denpasar  


Pater Yohanes Madia Adnyana,SVD lahir di banjar Dama Kolibul 18Oktober 1960 dari pasangan Antonius I Nyoman Redun dan Antonia NiWayan Nandri. Ia adalah anak ke-3 dari 8 bersaudara. Ibu Antonia danadik bungsu telah meninggal dunia.Pater Yan Bersama keluarga dibaptis menjadi katolik pada 24 Desember 1970 di Gerej Tritunggal Tuka oleh Pater Nobert Shadeg,SVD.

Menyelesaikan pendidika di SDN Tibubeneng smpai kelas IV da SDK Swastiastu Padangtawang kelas V dan VI pada tahun 1972. Tahun 1973Pater Yan masuk semiari Roh Kudus Tuka sampai 1976. Lalu melanjutkanke Seminari St. Vincetius A Paulo Garum 1976 sampai 1979.Tahun 1980-1982 menjalani tahun novisiat di novisiat SVD Roh Kudus Batu Malang kemudian mejalni studi filsafat di STFT Widya Sasana Malang dari 1982 sampai 1988. Di jedah waktu pada 1985 ia melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Santo Yoseph Mojokerto. 

Mengikrarkan kaul kekal, pada 20 Juli 1988 ia menerima urapan imamat dari Mgr. Vitalis Djebarus,SVD di Gereja St. Paulus Kolibul. Ia mengambil motto Yohanes 15:5b: Barangsipa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

Setelah menjadi imam ia pernah bertugas pada 1988-1995 sebagai rectorPostulat SVD Stela Maris Batu Malang, 1990-1993 melnjutkan studi spiritualitas di Australia. Tahun 1993 sampai 1995 kembali ditugaskan  sebagai rector Postulat SVDStela Maris Batu Malang. Tahun 1995-2003 dipercayakan sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta. Kemudia 2003-2013 dipercayakan sebagai Pastor Paroki Mari Ratu Rosari Kesatrian malang. Tahu 2013-2014 Pater Yan mengambil kursus penyegaran di Nemi Italiadan sejak tahun 2014 sampai sekarang ditugaskan sebagai Pastor RekanParoki Santo Yoseph Denpasar yang kemudian dipercayakan sebagaiPastor Paroki Santo YosephDenpasar. 

HASIL WAWANCARAA. 

TENTANG KBG

1. Bagaimana romo sendiri melihat KBG-KBG di Paroki romo dalamhal jumlah, keaktifan, kedekatan dan kegiatan yang dijalanan?

Tentang KBG di paroki ini, jujur selama tiga tahun saya di paroki ini, saya melihat bahwa KBG di mata keluarga besar paroki Santo Yoseph ini hanya nama. Ada namanya KBG. Saya tidak tahu apakah pembentukan KBG itu berdasarkan pembicaraan sebuah lingkungan atau tidak, faktanya jumlahnya besar sekitar 50 KBG. KBG hanya nama karena dalam kehidupan riil mereka tidak mengerjakan apa-apa.Banyak peribadatan dalam konteks menggereja itu masih ditangani oleh lingkungan dibawah koordinasi ketua lingkungan. Seharusnya jumlah KBG yang umum, sepuluh sampai 15 KK dan itu warga yang tinggal berdekatan. Mereka juga yang mengambil bagian dalam acara kegerejaan misalnya ada misa, pendalaman iman, kumpul-kumpul membicarakan apa saja yang mereka mau buat. Bahkan ada KBG yang mengatakan tidak perlu pengurus. Aneh, ada organisasi tapi tidak ada pengurus. 

2. Penilaian romo tentang praktek hidup menggereja melalui KBG?

Mereka hanya ada nama KBG, jumlah anggota ada, pengurus ada tetapi dalam praktek menggereja mereka tidak buat kegiatan. Pendalaman iman juga tidak mereka buat karena masih dijalankan oleh Lingkungan. 

3. Apa yang telah dilakukan oleh romo selama ini untuk membuatanggota KBG makin paham tentang KBG, makin aktif dan fasilitatormakin berkualitas? 

Jujur dari sudut jumlah yang saya sebut tadi tidak ideal, sayatidak bisa buat apa-apa. Mengenai teritori saya juga tidak bisa berbuatapa-apa sebelum batas teritori antar paroki beres. Nanti kacau kalaukita tentukan batas teritori kalau batas teritori yang lebih di atastidak beres. Yang saya buat adalah mulai bulan Mei tahun ini sayameberdayakan KBG. Bentuknya adalah mengisi bulan Mei dalam bentukRosario di Grotto Lourdes kita. Saya percayakan kepada KBG-KBGdengan harapan mereka semakin tahu siapa mereka siapa saudarasaudarinya, lalu bergiatlah sendiri KBG itu. Tapi jujur, saya melihat, sayamendengar belum semuanya konsisten dengan ide itu. Lalu mengenaipara pemandu kita sudah mengusahakan tahun lalu, menyambut APPsupaya pendalaman iman APP itu dibuat di KBG dan fasilitator kitaminta juga dari KBG tapi belum semuanya menanggapi baik bahkanada sebuah lingkungan ketika saya kumpulkan beberapa waktu lalu,mereka mengatakan sepakat dengan ide dasar pendalaman iman dibuatdi lingkungan. Bagaimana meningkatkan pemandu kita sudah lakukansebelum sebuah kegiatan pendalaman iman, mengumpulkan mereka,menganimasi dan mengadakan simulasi untuk pendalaman iman.Evaluasi juga dan nanti pertengahan Oktober kita undang seorang narasumber untuk memberikan pendalaman.

 4. Apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan yangdihadapi umatdan juga petugas pastoral dalam membangun KBG yang ideal di paroki?’

 Kekuatannya menurut saya umat itu menurut pengalaman sayabaik sangat terbuka. Kelemahannya tidak ada perencanaan pastoral yangterencana dan tersosialisasikan secara keseluruhan akibatnya masing-masing jalan sendiri-sendiri, masing-masing memiliki aturan yang tidaksama. Artinya tidak ada pastoral yang terencana dan pedoman yang samauntuk diikuti dalam sebuah paroki. 

5. Apa peluang dan tantangan yang romo lihat dalam membangun KBG? 

Peluanggnya umat itu baik, dengan kebaikan umat yang adamaka DPP dan saya pastor dituntut adanya perencanaan yang matang,tersosialisasi dan direncanakan dengan baik untuk dilaksanakan di paroki.Rintangannya adalah pemahaman umat bahwa menjadi gereja itu cukupke gereja, berkumpul dengan sesama tanpa mau tahu adanya keberadaanyang lebih efektif berdasar teritori. Jadi saya berhadapan dengan pahamumat yang demikian, mereka akan berontak. 

6. Apa usul dan saran dalam Sinode IV untuk membangun KBG? 

Usul saya, perjelas teritori paroki. Pimpinan harus mengeluarkanaturan dan kebijakan supaya DPP bersama para pastor sekeuskupan inimelakukan hal yang sama. Tujuannya supaya umat tidak protes karenaadanya perbedaan. Jadi ada aturan jelas sehingga yang di lapanganmenerapkannya. 

B. EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM 2012-20161. TAHUN 2012: Tentang Katekese dan Lembaga PendidikanKatolik 

1. Apakah kegiatan katekese dll membuat kehidupan rohani umat semakinberkualitas? 

Ketika sinode ketiga saya belum ada di keuskupan ini. Tetapi saya beranimemberi evaluasi karena tema-tema tidak berhenti pada satu tahuntetapi berkesinambungan. Untuk kita di kepundung katekese belumdibuat secara berencana. Sehingga untuk mengevaluasi, ada atau tidakkatekese belum menjadi sumber atau kebtuhan. Jadi mendatar, tidak adapeningkatan yang signifikan. 

2. Apa tantangan dalam melaksaakan katekse di paroki? Bagaimanadengan kemampuan tim fasilitator? 

Kemampuan fasilitator masih perlu dibenahi. Insan fasilitator belumterbentuk sehingga kalau ada sebuah even menyangkut katekese kitaharus melakukan pembekalan. Tujuannya bagaimana mengondisikansupaya fasilitator merasa dibekali sehingga memiliki senjata untukmelayani umat. Dari segi umat, mereka merasa belum membutuhkan.Maka perlu gerakan menumbuhkan kesadaran umat. Katekese perluuntuk proses penyadaran. 

3. Apa usul saran romo agar kegiatan katekese ke depan lebih berkualitas? 

Usul saya, dalam paguyuban sahabat fasilitator mau saling membangundiri sesuai dengan pembekalan. Ada agenda untuk membekali diri apakahada moment berkatekese secara masal. Saya mau ke depan, sepanjangdalam satu tahun itu ada katekese, bukan hanya menjelang paskah, natalatau bulan kitab sci. Jadi ini harus diakarkan di level umat. 

TENTANG LEMBAGA PENDIDIKKAN KATOLIK 

1.Apakah lembaga Pendidikan katolik masih menjadi pilihan utamaumat di paroki? 

Anak katolik kita yang bersekolah di sekolah katolik sangat terbatas.Menurut saya dalam ide, supaya anak bisa sekolah di sekolah yangdikelola oleh gereja. Tapi karena keterbatasan dana lalu mereka memilihdi luar yang lebih murah. Juga mutu di sekolah kita tidak ada yangunggul atau dibanggakan. Saya rasa dari sudut pengelola Pendidikankita juga kurang bersahabat dengan umat. Buktinya mereka mengatakantidak pernah ada kunjungan, sosialisasi di awal tahun pelajaran sehinggaada jarak antara lembaga Pendidikan dan umat. Lembaga Pendidikan kitaasing di mata mereka.

 2. Apa tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh orangtua dalamhal Pendidikan anak? 

Menurut saya, lembaga Pendidikan kita tidak bisa ditembus bahkan suratdari paroki untuk minta keringanan tidak ditanggapi. Sementara pengaruhpariwisata sangat luar biasa dan di tengah situasi dimana wadah lembagaPendidikan kita tidak bisa ditembus guna mendapat Pendidikan yanglebih baik, akhirnya mereka bersikap apatis dan berperisnsip, jalani saja. 

3. Apa usul dan saran romo bagi lembaga Pendidikan katolik agar mampumelaksanakan karya Pendidikan lebih berkualitas? 

Usul saya, interen lembaga Pendidikan kita kedalam harus lebihmemikirkan umat dan masa depan gereja secara keseluruhan di tengahsituasi seperti ini. Keluar,ajaklah paroki-paroki yang ada rekan kerjauntuk melayani umat. Konkritnya sosialisasikan apa yang menjadi situasidan kondisi, peluang dan tantangan. Saya merasa umat sangat terbuka. 

TAHUN 2013: TENTANG OMK 

1. Apakah romo mengetahi dan memahami program kerja KomkepKeuskupan Denpasar? 

Jujur saya tidak tahu.

 2. Bagaimana implementasi program kerja Komkep di Paroki? 

Karena di satu pihak saya tidak tahu program Komisi Kepemudaan sampaidetik ini, saya rasakan gerakan yang dilakukan oleh Komisi kepemudaandengan melibatkan orang-orang muda itu hanya aksidental. Kalau terjadisesuatu mereka bergerak. Sesudah itu tak ada apa-apanya lagi. 

3. Apa saja kegiatan OMK di paroki yang menonjol? 

Sampai hari ini, tentang kegiatan OMK yang menojol, itupun belummaksimal. Dalam kaitan gereja secara keseluruhan menanggapi ajakankomisi untuk melakukan sesuatu. Intern mereka mengadakan ekaristikaum muda sebulan sekali itupun tidak rutin, Orang-orang muda yangbergerak bisa dihitung dengan jari. Banyak orang muda namun belumdidampingi secara baik oleh para pendamping termasuk oleh kami parapastor. 

4. Apakah OMK berpartisipasi dalam kegiatan Bersama kelompokmasyarakat lain? 

Secara individu saya yakin ada. Secara kekerabatan di tepat domisilimereka lakukan. Secara kelompok OMK Paroki Kepundung saya katakantidak ada. Saya berharap ada tindak lanjut ke depan supaya OMK lebihaktif lagi di tengah masyarakat. 

5. Apa rekomendasi romo sebagai saran untuk berkembangnya OMK dikeuskupan? 

Orang muda di keuskupan kita apalagi di kota Denpasar, bertambahbanyak. Kampus universitas, luar biasa banyaknya. Dan banyak orangmuda ini berasal dari daerah-daerah. Rekomendasi saya adalah GerejaKeuskupan Denpasar harus berani memberikan seorang pendampingrohani. Dalam konteks ini seorang romo khusus untuk mendampingiorang-orang muda di kampus-kampus negeri maupun swasta itu. Dan itumenurut saya peluang yang sangat baik. Kalau dikatakan bahwa tenagaromo kurang kita tidak akan pernah kelebihan romo. Tapi justru ditengah-tengah kekurangan kita akan tenaga romo itu, kalau kita mampudan berani menyiapkan seorang romo yang bersiap untuk mendampingikaum muda dan memberikan dia wewenang untuk karya ini, saya yakinorang muda kita akan bangga bahwa selama ada di Denpasar untukkuliah mereka akan mendapatkan sesuatu untuk bekal perjalanan merekake depan. 

6.  Kekuatan dan kelemahan apa yang dihadapi OMK? Kekuatan OMK sebenarnya mereka punya mimpi, merka sadar bahwamereka warga gereja dan warga negara ini . Mereka punya cita-cita .Kekuatan lainnya mereka punya sumber daya, mereka punya jaringan.Kelemahan mereka: dukungan dalam arti pendampingan, tuntunan,teguran, dan juga dana.

 7.  Peluang dan tantangan apa yang dihadapi Paroki terkait pendampinganOMK? 

Peluangnya menurut saya banyak orang muda kita yang rindu untukberkumpul, untuk berorganisasi dan berkegiatan Bersama teman-temanseusia. Itu kerinduan kuat mereka. Kekurangannya, kurang adanyadukungan dari para orang tua baik orang tua kandung maupun pengurusdari keluarga-keluarga kegerejaan seperti lingkungan dan KBG. Sayapernah mengatakan, banyak anak dari para pejabat paroki, Dewan Parokimisalnya, yang anak-anaknya justru tidak aktif di OMK. 

8.  Apakah ada usul saran dari romo untuk pengembangan OMK?

 Saran saya, dari kalangan OMK kita buat pendataan. Anak-anak kitaitu ada dimana, lalu apa yang mereka lakukan setiap hari, mahasiswaatau sudah bekerja.Kita para orang tua baik orangtua kandung maupunorangtua rohani (DPP Pleno) bergandengan tangan untuk mendampingimereka, melayani mereka, mendukung mereka. Bentuk dukungan yangsaya pikirkan minimal adanya beberapa orang tua yang berjiwa muda ada bersama mereka sebagai pendamping. Dukungan itu adalah kita berikankepercayaan kepada mereka untuk melakukan sesuatu misalnya ekaristisesuai dengan perkembangan mereka. Juga harus ada pos keuanganbagi mereka. Sebab jaman sekarang buat kegiatan tanpa dukungan danaadalah sesuatu yang mustahil. 

TAHUN 2014: TENTANG KBG DAN KEPEMIMPINANPASTORAL 

1.    Bagaimana kepemimpinan pastoral dalam diri ketua KBG dan DPP

Untuk di Kepundung, jujur, KBG itu hanya nama. Sehingga saya bisamengatakan tidak terjadi kepemimpinan dan tidak jalan. Sementarakepemimpinan mutlak ada dalam sebuah kumpulan. Ke depan harusdibangun sinergis kepemimpinan di pusat paroki Bersama teman-temanpara pemimpin di KBG-KBG sebagai penjaga gawang terdepan darihidup menggereja kita. 

2. Apa kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan di tingkat KBGdan paroki? 

Kekuatannya adanya keterbukaan dari masing-masing. Kepemimpinandari pusat paroki ada keterbukaan untuk bergandengan tangan Bersamapengurus-pengurus di garda terdepan itu. Lalu teman-teman pengurusKBG itu mereka juga penuh dengan keterbukaan. Mereka buat panduanBersama untuk bisa sinergis. Sebab umat yang kita layani sama. 

3. Apa usul dan saran romo agar kepemimpinan pastoral dapat memberipelayanan dan pemberdayaan umat sesuai teladan Yesus? 

Kualitas dan keterampilan, kemampuan untuk memimpin perluditingkatkan melalui latihan-latihan yang direncanakan. Latihankepemimpinan atau kaderisasi dasar sangat penting dilakukan untukmenyiapkan pemimin gereja di masa depan. 

TAHUN 2015: KBG DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT 

1. Bagaimana upaya yang dilakukan sehubungan dengan pemberdayaanekonomi umat di KBG? 

Jujur, KBG-KBG hanya nama, kegiatan masih banyak dilakukan olehlingkungan. Jadi kegiatan ekonomi di KBG sebetulnya tidak ada. Bahkandi lingkungan, kegiatan ekonomi secara terencana juga tidak ada.

 2. Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam upaya pemberdayaanekonomi umat? 

Ada kekuatan yakni jumlah umat yang cukup banyak. Ada kemauanuntuk memberdayakan ekonomi. Kelemahannya mereka tidak tahumembaca peluang, memanfaatkan peluang dan tentu saja keterbatasanmodal usaha. 

3.Apa peluang dan tantangannya? 

Peluangnya adalah: Umat itu siap untuk berubah menuju kehidupangereja yang lebih baik antara lain juga dari segi ekonominya. Makapemimpin dituntut untuk memikirkan kebutuhan umat salah satunya dibidang ekonomi. Menjadi orang katolik itu mahal, ke gereja perlu bensin,di gereja kolekte, ada parkir, ada kegiatan paroki yang sumber dananyadari umat. Jadi kemampuan secara ekonomis harus diperhatikan. 

4.Apa usul dan sarannya? KBG-KBG, Lingkungan, Paroki harus memikirkan pemberdayaanekonomi umat. Dengan demikian antara kebutuhan secara rohaniah dankebutuhan secara jasmaniah bisa berjalan seimbang. 

TENTANG CU/KOPERASI 

1. Bagaimana upaya memberdayakan ekonomi umat melalui CU/Koperasi? 

Sehubungan dengan kesejahteraan umat dari segi ekonomi, GerejaKepundung selama ini tidak pernah memikirkannya secara terprogram.Bahwa ada inisiatif individu hal itu ada. Buktinya tidak ada poskeuangan paroki untuk orang miskin, untuk menolong warganya yangkesulitan biaya Pendidikan anak. Mungkin ini sebuah kesepakatanjuga di kepundung bahwa paroki tidak melakukan apa-apa, tetapimempercayakan itu ke lingkungan masing-masing karena lingkunganyang ada sejauh ini mengusahakan hal itu. Kalau ada umatnya yangsakit mereka bantu, bantu biaya Pendidikan untuk warganya yang tidakmampu. Tapi itu bukan agenda melainkan gerakan sesaat. Puji Tuhan darihasil omong-omong orang-orang yang “gila” Credit Union maka berhasilkita dirikan CU Santo Yoseph yang peresmiannya dilakukan oleh BapaUskup Denpasar. 

2. Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam mengumatkan CU? 

Kekuatannya, CU itu lahir dari akar rumput. Ada sekelompok umat yangmau berkumpul. Kekuatannya saya yakin ini berkat Tuhan yang dihadirkanoleh rekan-rekan pengurus di lingkungan yang mengumpulkan wargauntuk sosialisasi dan itu terjadi. Kekuatan umat mereka menangkap danmereka mendukung. Justru karena itu kita ada bekal di tingkat pengurusCU dan DPP. Kekurangannya, karena pengalaman ada CU yang bangkrutmaka ada umat yang sangat berhati-hati. Kelemahan lainnya ada paratokoh yang tidak senang dengan CU lalu mempengaruhi yang lain untukturut melihat CU sebelah mata saja. 

3. Apa peluang dan tantangannya? 

Peluang sangat terbuka, ada umat yang telah bergabung dan itu bisa menjadicorong untuk menyosilisasikan CU yang sudah ada. Tantangannya tentusaja, apakah pengurus mau bekerja secara transparan, terbuka, akuntabel. 

4. Apa usul dan saran untuk menumbuhkembangkan koperasi? 

Dari sisi organisasi Credit Union, saya bersyukur bahwa CU yang kitadirikan dilandasi oleh sebuah iktikad yang sangat mulia. Mereka denganilmu dan pengalaman, mengusahakan adanya kepengurusan yang solid.Mereka mengabadikan CU dalam sebuah buku, yang menurut saya bisadipertanggungjawabkan siapapun orangnya nanti yang akan menjadiPengurus. Sejauh system berjalan maka CU akan berkembang. Walaupunada tantangan, kita harus tetap maju, bekerja penuh tanggung jawab,tidak menyimpang. Dan umat yang sangat banyak akan melihat. Dansaya optimis, kita akan berhasil. 

TENTANG DASOPEN 

1.Bagaimana keterlibatan umat terkait dengan gerakan Dasopen? 

Sampai tiga tahun saya di Paroki ini, saya merasa tidak pernah diinfokanDasopen itu. Dasopen juga tidak diinfokan kepada umat. Kita belumpernah menerima surat dari PSE tentang Dasopen. Gema Dasopenkurang disosialisasikan sehingga umat tidak kenal. Satu dua saja yangpunya relasi yang tahu itu Dasopen. Secara gerakan di paroki tidak ada. 

2. Apa kekuatan dan kelemahan dalam gerakan Dasopn? 

Kekuatan Dasopen sangat luar biasa. Mulai dari gereja Perdana, sudahmemiliki kekerabatan yang mendalam. Mereka yang memiliki kelebihandengan sukacita memberi, menggunakan Bersama milik mereka. Inikekuatan. Kelemahannya, sosialisasi sangat kurang. 

3. Apa peluang dan tantangannya? 

Peluang ke depan sangat luar biasa, umat yang mampu banyak, merekamau berbagi. Jadi harus kelola secara professional. 

4. Apa usul dan sarannya? 

Usul saya agar para pengelola, duduk Bersama, merancang dan kerjasamadengan PSE paroki. Dan bekerja secara transparan. Selain itu agarDasapen lebih digeakan lagi, disosialisasikan sampai ke tingkat KBG. 

PARIWISATA, PERTANIAN & KELAUTAN 

1. Bagaimana keterlibatan umat memberdayakan ekonomi di bidangpariwisata, pertanian dan kelautan? 

Ada umat kita yang bergerak di pariwisata. Mereka masuk dengan modalkekuatan sendiri secara individu. Secara social kekeluargaan paroki tidakpernah ada usaha untuk memberdayakan umat dalam konteks pariwisatauntuk kehidupan mereka. 

2. Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi? 

Kekuatannya kita punya sumber daya manusia yang luar biasa. Kitapunya sarana, kita punya bangunan bersejarah. Kelemahannya tidakpunya koordinasi, tidak ada kerja terencana. 

3. Apa peluang dan tantanannya? 

Peluang sangat terbuka karena Bali adalah destinasi pariwisata. Banyakwisatawan yang datang ke Bali mengunjungi tempat sejarah gerejakatolik. Tantangannya, bahaya eksploitasi bangunan atau tempat-tempatsacral bisa saja terjadi. Maka perlu dikelola secara baik. 

4. Apa usul dan sarannya? 

Saya yakin para pengurus DPP memiliki jaringan baik intern gerejamaupun di masyarakat. Maka bantulah para pelaku pariwisata agarmereka bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat di bidang pariwisata.Seiring dengan situasi dan kondisi Bali yang adalah destinasi wisata,maka seharusnya ada Komisi Pariwisata di tingkat Keuskupan. Apayang diilakukan mendiang P. Nobert Shadeg, perlu dihidupkan kembali.Melalui komisi Pariwisata, para wisatawan yang beragama Kristen bisamendapatkan informasi yang akurat tentang keberadaan gereja, tempatsiarah, tempat sejarah di Bali dan NTB. 

TAHUN 2016/: KELUARGA 

1. Bagaimana pelaksanaan pendampingan keluarga? Apakah sudahditangani tim. Apa yang menjadi permasalahannya? 

Pembinaan bagi para Pembina keluarga di paroki ini mungkin sudahdilakukan terutama oleh Keuskupan. Dari paroki ada orang yangdikirim mengikuti kursus atau pembinaan tentang keluarga namunsetelah kembali ke paroki tidak sosialisasikan lagi ke umat atau tidakmembuat aksi nyata. Secara institusional keluarga-keluarga kita tidakterpandu secara terencana. Ketika saya bertugas di Paroki Santo Yoseph,saya coba memulai dengan sebuah perayaan bagi yang berulang tahunperkawinan para Pasutri melalui ekaristi dan rekoleksi. Namun ternyatatidak banyak tanggapan. Justru berangkat dari gereja sebagai keluarga-keluarga dan juga realitas masalah kesetiaan perkawinan, maka sekarangseksi kerasulan keluarga kita mulai jalan. Kita sudah mengadakan KPPsendiri, kita libatkan umat yang nota bene ahli dalam bidangnya. Kitajuga akan mulai dengan konseling keluarga bermasalah. 

2. Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan keluarga? 

Yang menjadi keuatan adalah sudah ada perangkat dan ada umat yangmemiliki keahlian tertentu untuk membantu pembinaan keluarga.Kelemahannya, sedikit saja yang mau berkorban waktu dan tenaga. 

3. Apa usul dan sarannya?Agar supaya memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga yangmengalami masalah perkawinan seperti ancaman perceraian, kawincampur. Penyelesaian masalah dilakukan dengan serius sehingga hak-hak mereka sebagai umat katolik bisa dipulihkan kembali.

   
WAWANCARA DENGAN PASTOR PAROKI ST PETRUS MONANG MANING
Pewawancara: Agustinus G Thuru/Seksi Dokumentasi & Publikasi Panitia Sinode IV Keuskupan Denpasar

P. Rosarius Geli,SVD lahir di Mataloko Ngada Flores NTT 28 Mei 1962 dan ditahbiskan menjadi imam Serika Sabda Allah (SVD) pada 26 Juni 1990. Saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Santo Petrus Monang Maning. Ia juga menjabat sebagai Ketua Komisi PSE Puspas Keuskupan Denpasar.


HASIL WAWANCARA

A.  TENTANG KBG
1.   Bagaimana romo  sendiri melihat KBG-KBG di Paroki romo dalam hal jumlah, keaktifan, kedekatan dan kegiatan yang dijalankan?
Soal jumlah KBG itu belum sesuai harapan. Tapi soal jumlah itu relatif. Jumlah KBG jangan terlalu dipikirkan sekali. Jumlah KK dalam KBG antara  10 sampai 15  atau di bawahnya juga tidak apa-apa. Yang penting mereka aktif. Meskipun harus disadari bahwa KBG di Paroki itu masih ada yang lintas lingkungan bahkan lintas paroki.

2.   Penilaian romo tentang praktek hidup menggereja melalui KBG?
Tentang KBG ini sudah tiga Sinode  dibicarakan.Jadi sudah 15 tahun dan sekarang mau Sinode IV diangkat lagi sebagai evaluasi.Dalam perjalanan waktu, KBG ini sisi positifnya ada pertumbuhan, dalam artian bahwa sudah terbentuknya KBG di lingkungan. Jadi ada kehidupan menggereja yang nyata dalam organisasi.

3.   Apa yang telah dilakukan oleh romo selama ini  untuk membuat anggota KBG maki paham tentang KBG, makin aktif dan fasilitator makin  berkualitas?
Kegiatan-kegiatan selama ini jalan dengan kegiatan doa Rosario, pertemuan-pertemuan kitab suci, namun kalau pada bukan kitab suci atau bulan Mei dan Oktober, APP atau AAP. Jadi saat-saat tertentu mereka berkumpul untuk kegiatan. Sehingga KBG sebetulnya tidak terorganisir dengan baik. Kegiatan-kegiatan KBG di luar dari  itu belum terlalu Nampak. Yang Nampak lebih banyak kegiatan-kegiatan liturgi. Memang ada mungkin kegiatan arisan di KBG tetapi itu belum banyak dilakukan.


4.   Apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan yangdihadapi umat dan juga petugas pastoral dalam membangun KBG yang ideal di paroki?
Solidaritas antar anggota KBG mulai bertumbuh  namun pelan dan itu tentu butuh waktu. Namun ini merupakan satu kekuatan. Kelemahannya tentu saja mereka terbentur dengan masalah waktu. Mereka bekerja  sehingga sulit mengatur waktu untuk  kegiatan Bersama. Jadi yang hadir  pada kegiatan dipastikan yang punya kemauan dan punya waktu.

5.   Apa peluang dan tantangan yang romo lihat dalam membangun KBG?
Peluang ada di depan mata. Saya pikir, kita harus benahi dulu soal batas paroki. Maka tidak bisa kerja sendiri, harus antar paroki, kerja Bersama-sama antar paroki, bahkan satu dekenat. Baru kemudian pastor paroki dengan dewan paroki mengatur internal parokinya sendiri.

6.   Apa usul dan saran dalam Sinode IV untuk membangun KBG?
Usul saya adalah supaya KBG tetap berjalan dan untuk itu harus dibenahi wilayah teritori  atau batas  paroki. Supaya ada kebijakan membenahi paroki dalam arti batas-batas paroki . Perlu kerjasama antar pastor paroki untuk membenahi teritori ini, bila perlu Bapa Uskup, Puspas atau Dekenat mengeluarkan surat secara resmi tentang teritori ini. Jadi bukan sekedar menghimbau tetapi perlu ada ketegasan dan kejelasannya. Dengan surat itu menjadi acuan untuk melakukan pembenahan teritori yang dimaksud.

B.  EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM 2012-2016
TAHUN 2012
TENTANG KATEKESE
1.   Apakah kegiatan katekese dll membuat kehidupan rohani umat semakin berkualitas?
Kegiatan katekese  masih seputar APP, AAP, bulan kitab suci, itu berjalan. Namun mutu katekese itu perlu ditingkatkan terus. Perlu latihan lebih banyak lagi bagi pemandu-pemandu.

2.   Apa tantangan dalam melaksaakan katekse  di paroki? Bagaimana dengan kemampuan tim fasilitator?
Masalah pemandu adalah tantangannya. Kita sudah melatih orang tetapi orang yang kita latih itu kembali ke KBG  tidak aktif. Orang yang tidak ikut latihan malah yang aktif  sehingga   menjadi mubasir apa yang sudah  diberikan saat latihan. Katekese yang membangun iman, bahwa ada pertumbuhan, harus kita akui. Fasilitatornya  harus dipersiapkan secara baik.

3.   Apa usul saran room agar kegiatan katekese ke depan lebih berkualitas?
Usul saran  saya para pemandu  harus dilatih atau dipersiapkan dengan  baik , dilatih terus menerus, ditingkatkan kualitasnya. Dan itu harus dilakukan secara kontinyu, bukan hanya sekali saja.
TENTANG LEMBAGA PENDIDIKKAN KATOLIK
1.   Apakah lembaga Pendidikan katolik masih menjadi pilihan utama umat di paroki?
Kita mengharapkan sekolah katolik itu menjadi pilihan utama bagi orangtua menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi sekarang ini sudah  terjadi banyak perubahan, sebab di luar sekolah katolik juga ada sekolah-sekolah lain yang bermutu. Maka banyak tawaran pilihan bagi umat untuk memilih sekolah.
2.   Apa tantangan dan permasalahan yangdihadapi oleh orangtua dalam ha Pendidikan anak?
Kita berharap bahwa sekolah katolik menjadi pilihan utama karena menyangkut Pendidikan agama, Pendidikan iman anak. Tapi  sekolah katolik bisa menjadi bukan sekolah pilihan utama karena beberapa factor. Misalnya factor transportasi, jauh dari tempat tinggal  anak. Juga dari fator pembiayaan dimana orang tua menganggap sekolah katolik itu mahal. Pada hal  banyak sekolah  yang bukan sekolah katolik mahal bahkan lebih mahal dari sekolah katolik tetapi menjadi pilihan keluarga katolik. Banyak sekolah Kristen  yang mahal dan anak katolik bersekolah di sana. Jadi sebetulnya ada banyak faktor yang menyebabkan sekolah katolik tidak menjadi pilihan utama. Di paroki ini (Monang Maning)  tidak ada sekolah katolik. Ada anak-anak yang sekolah di sekolah katolik Yayasan insan mandiri, Santo Yoseph tegaljaya, Soeverdi, tetapi berapa banyak  saya tidak tahu.

3.   Apa usul dan saran room bagi lembaga Pendidikan katolik agar mampu melaksanakan karya Pendidikan lebih berkualitas?
Usul saran saya terhadap Pendidikan katolik, pertama-tama kita kembali kepada arahan Gereja bagaimana mewujudkan visi dan misi Pendidikan katolik itu. Itu harus tidak boleh hilang, spiritualitas visi misi itu harus terus digelorakan. Jadi harus diperjuangkan dan itu dalam beberapa waktu ini, ada sedikit penurunan. Saya melihat mulai bangkit lagi, ada upaya untuk mencerahkan visi misi sekolah katolik. Perlu program-program yang terencana, terarah dan mengakar pada umat  di tingkat yayasan-yayasan  dan untuk itu perlu waktu. Namun kita harus telah menyelenggarakan sekolah katolik itu.

TAHUN 2013
TENTANG OMK
1.   Apakah romo mengetahi dan memahami program kerja Komkep Keuskupan Denpasar?
Saya mengetahui program kerja Komisi kepemudaan karena saya juga salah satu ketua komisi yakni PSE. Dalam rapat-rapat  dibicarakan program kerja semua komisi
2.   Bagaimana implementasi program kerja Kokep di Paroki?
Di paroki ada program untuk pembinaan OMK  dan itu yang diimplementasikan. Program pembinaan orang muda di Paroki  tidak jauh berbeda dengan  program kerja komisi kepemudaan. Program komisi kepemudaan dijabarkan di program kegiatan paroki. Kita di paroki selalu menyusun program untuk orang muda pada awal tahun dan mengevaluasinya pada akhir tahun. Termasuk semua sisi. Program OMK disusun Bersama

3.   Apa saja kegiatan OMK di paroki yang  menonjol?
Program yang menonjol selama ini latihan koor, olahraga, itu yang kuat selama ini. Kegiatan social lainnya belum. Kita mendorong mereka. Kita juga harus memahami merekadari semua aspek. OMK itu ada yang masih sekolah, kuliah dan bekerja, jadi ada keterbatasan waktu. Banyak juga OMK yang belum bisa mengatur dirinya sendiri dan waktunya sendiri.

4.   Apakah OMK berpartisipasi dalam kegiatan Bersama kelompok masyarakat lain?
Secara organisasi masih belum tampak. Tapi secara individu OMK terlibat  di masyarakat misalnya di Banjar tempat mereka tingga.
5.   Apa rekomendasi romo sebagai saran untuk berkembangnya OMK di keuskupan?
Rekomendasi saya, dulu pernah ada paket-paket pelatihan bagi orang muda, semacam latihan kepemimpinan atau kegiatan kaderisasi. Itu harus dihidupkan kembali karena kita memerlukan pemimpin  di masa depan gereja

PELUANG DAN HAMBATAN
1.   Kekuatan dan kelemahan apa yang dihadapi OMK?
Kekuatan OMK itu dari segi jumlah banyak, sangat banyak. Mereka punya kemampuan dan itu menjadi kekuatan. Kelemhannya, mereka sedang menjajagi diri mereka sendiri, jadi perlu pendampingan  dan program yang  sesuai kebutuhan mereka.
2.   Apakahadausul saran dari room untuk pengembangan OMK?
Berikan perhatian  yang lebih serius lagi kepada pembinaan orang muda. Termasuk  dukungan dana untuk membiayai kegiatan mereka.


TAHUN 2014
TENTANG KBG DAN KEPEMIMPINAN PASTORAL
1.   Bagaimana kepemimpinan pastoral dalam diri ketua KBG dan DPP?
Kepemimpinan KBG dan paroki, kami di paroki membuat pelatihan-pelatihan terus tentang kepemimpinan pastoral baik DPP maupun kepemimpinan di lingkungan-lingkungan. Kepemimpinan itu sesuatu yang perlu latihan.
2.   Apa kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan di tingkat KBG dan paroki?
Kekuatan ada pada  kemauan bahwa mereka mau menerima kepercayaan. Namun seringkali sangat terbentur dengan waktu karena orang ada pekerjaan, ada kegiatannya.Saya bersyukur bahwa selama ini masih ada orang yang punya niat baik bergiat  untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan pastoral. Mereka memberikan waktu, itu sesuatu yang harus dihargai.

3.   Apa usul dan saran romoagar  kepemimpinan pastoral dapat memberi pelayanan dan pemberdayaan umat sesuai teladan Yesus?
Usul saran saya, mereka harus didampingi terus menerus, dimotivasi terus menerus.Karena itu harus ada program yang terencana untuk pelatihan kepemimpinan pastoral.

TAHUN 2015
KBG DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT
1.   Bagaimana upaya yangdilakukan sehubungan dengan pemberdayaan ekonomi umat di KBG?
KBG selama ini kegiatannya masih seputar liturgis, kegiatan ekonomi  masih kurang.
2.   Apa kekuatn dan kelemahan yangdihadapi dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat?
Ada  beberapa KBG  sudah lakukan  dengan arisan kelompok bapak-bapak atau ibu-ibu. Dan bagi saya ini merupakan kekuatan. Kelemahannya adalah  mereka masih susah untuk berkumpul akibat  waktu dan juga jarak tempat tinggal yang berjauhan.

3.   Apa peluang dan tantangannya?
Belum ada kegiatan ekonomi yang direncanakan Bersama untuk memberdayakan  ekonomi secara Bersama-sama pula.Ini juga adalah peluang yang sangat terbuka untuk dikembangkan. Tantangannya  tentu saja dari  KBG iu sendiri, mereka mau  atau tidak.
4.   Apa usul dan sarannya?
Dalam refleksi FGD Paroki, saya  merasakan bahwa Paroki harus punya upaya untuk meningkatkan perekonomian umat. Paroki kami merencanakan untuk membuka warung sembako  sehingga  umat bisa  memenuhi ebutuhan  sembakonya dengan harga yang lebih murah. Keuntungannya untuk mendukung kegiatan  KBG.
                        CU/KOPERASI
1.   Bagaimanaupaya memberdayakan ekonomi umat melalui CU/Koperasi?
Di paroki ini sudah ada CU tapi macet sampai sekarang. Mengapa, karena salah kelola. Orang mempunyai pandangan negative pada CU. Orang tidak percaya lagi pada CU.
2.   Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam mengumatkan CU?
Untuk buat CU lagi  sudah tidak mungkin. CU yang dulu meninggalkan utang, gereja juga punya uang  di CU itu yang nasibnya  tidak jelas. Tahun 2011 ada RAT tapi setelah itu tidak ada lagi.

3.   Apa usul dan saran untuk menumbuhkembangkan koperasi?
Untuk mendirikan CU  di Paroki  harus mulai dengan Pendidikan bagi para pengurusnya  dan para anggotanya. Perlu  studi banding  dulu baru diikan CU supaya jangan  sampai nasibnya  seperti CU di Paroki Monang Maning.

DASOPEN
1.   Bagaimana keterlibatan umat terkait dengan gerakan Dasopen?
Dasopen itu saya yang mengonsepkan ketika saya  dipercaya sebagai Ketua PSE. Tujuannya adalah untuk membantu umat yang tidak mampu. Dana itu dari umat yang mampu untuk dikembalikan kepada umat yang tidak mampu. Dalam rapat Puspas, kita berikan prioritas kepada anak-anak yang sekolah di sekolah katolik. Namun yang sekolah di luar sekolah katolik juga bisa diberikan.
2.   Apa kekuatan dan kelemahan dalam gerakan Dasopn?
Dari perspektif bela rasa PSE, Dasopen ini harus tetap dilanjutkan. Dasopen itu amanat Sinode ketiga. Dasopen merupaka salah satu bentuk semangat dari karya PSE. Kekuatannya ada yakni banyak umat mampu yang solider. Kelemahannya, kegiatan Dasopen ini kurang digemakan. Semangat solidaritas umat adalah kekuatan. Kelemahannya adalah masalah koordinasi di tingkat paroki.

3.   Apa peluang dan tantangannya?
Kami sudah jalan dari paroki ke paroki untuk  sosialisassi Dasopen, namun di Paroki yang tidak sosialisasi kepada umat. Juga ada banyak umat yang tahu tentang dasopen tetapi mereka berpikir, solidaritas Pendidikan itu harus  diperoleh  secara mudah. Pada hal harus ada aturan main, ada syarat-syarat yang harus dipe nuhi. Jadi ada syarat-yarat yang harus dibuat.

4.   Apa usul dan sarannya?
Saran dan usul, kita harus jalankan dan kita tingkatkan supaya banyak  umat yang ditolong. Umat sudah merasakan manfaatnya, maka Dasopen harus menjadi sebuah gerakan.



PARIWISATA, PERTANIAN & KELAUTAN
1.   Bagaimana keterlibatan umat memberdayakan  ekonomi di bidang pariwisata, pertanian dan kelautan?Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi?Apa peluang dan tantanannya?Apa usul dan sarannya?
Pariwisata, pertanian dan kelautan serta koperasi merupakan divisi kerja PSE. Perlu ada pemetaan umat, dimana  ada pertanian, kelautan, pariwisata sehingga kita bisa buat pelatihan  sesuai kebutuhan mereka. Kelautan memang kita belum menyentuh. Tenaga kita  juga sangat terbatas. Pariwisata selama ini sudah mulai jalan, sudah ada  tempat wisata rohani  yang  perlu dikelola secara baik seperti di Palasari, Tuka, Babakan, Slabih. Itu harus  dikelola  secara baik  secara professional.
Dalam  sinode ketiga diputuskan juga  supaya ada devisi  pariwisata. Sebab  wisata rohani di Bali  sangat potensial. Contoh di Palasari, pariwisata rohaninya sudah hidup. Jadi harus ada kerja sama  dengan berbagai pihak supaya meningkatkan.

TAHUN 2016
1.   Bagaimaa pelaksanaan pendampingan keluarga? Apakah sudah ditangani tim. Apa yang menjadi permasalahannya?Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan keluarga?Apa yang menjadi peluang dan tantangannya?Apa usul dan sarannya?
Pendampingan keluarga itu sangat luas. Selama ini masih  sebatas kursus  perkawinan. Yang lain belum ditangani secara baik. Memang  ada tim tetapi tim itu harus ditingkatkan.

Kekuatan keluarga, bahwa mereka bertahan dalam perkawinan  yang diikat oleh sakramen. Keluarga sebagai gereja keccil. Itu kekuatan. Kelemahannya, banyak keluarga terutama keluarga muda yang belum siap, belum matang dan siap  berkeluarga. Juga masalah pekerjaan, suami dan istri bekerja, nak dititipkan. Kegidupan bergereja jugadiabaikan. Jadi karena tuntutan pekerjaan keakraban dalam keluarga  menjadi sangat berkurang.