Jumat, 19 Maret 2010

KENANGAN TAHBISAN

YANG MULIA USKUP DENPASAR MGR.DR.SILVESTER SAN,PR



Doa seluruh umat Keuskupan Denpasar agar diberi seorang Gembala yang mengasihi umatNya terjawab. Tuhan memberi yang diharapkan pada waktunya. Tepatnya pada tanggal 22 Nopember 2008, pukul 12.00 waktu Roma (19.00 Wita), Paus Benediktus XVI di Vatikan mengumumkan pengangkatan Rm. Silvester San, Pr sebagai Uskup di Keuskupan Denpasar. Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah memilih mereka yang dikehendakiNya untuk menduduki jabatan Uskup Denpasar dari waktu ke waktu. Yang satu menabur, yang lain memelihara, memupuki dan membersihkan. Tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Terpilihnya Mgr. Silvester San, Pr adalah kabar gembira bagi kita semua. Buku kenangan ini merupakan ekspresi dukungan dan kegembiraan, pesan dan harapan begitu banyak orang akan menjadi seperti apakah Keuskupan Denpasar di bawah seorang gembala yang dirindu kedatangannya oleh kawanan dombanya. Tentu saja sejarah masa lampau Keuskupan Denpasar adalah pelajaran yang berharga dalam membangun Gereja Lokal di pulau mahakarya para dewata, Bali dan pulau seribu mesjid, Lombok dan Sumbawa.
Team Penulisan Buku Kenangan Tahbisan Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, Pr menghadirkan ke tengah pembaca figur Uskup terpilih dengan logo dan moto tabisannya, profil Keuskupan Denpasar, perasaan, pendapat, kesan dan harapan serta dukungan moril berupa ucapan selamat yang datang dari berbagai pihak. Semua data yang dkumpulkan team diolah sedemikian rupa dengan mempertahankan nuansa aslinya, seperti apa adanya.
Kami menyadari apa yang kami kerjakan tentu masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kami sebagai manusia. Namun kami berharap semoga buku kenangan ini menjadi sebuah persembahan untuk semua dan ilham yang tak pernah habis untuk menghadirkan Allah yang memberi pertumbuhan kepada siapa saja yang membuka diri untuk dipakai olehNya. Proficiat kepada Mgr. Silvester San, Pr. Selamat menjalankan tugas kegembalaan sebagai Uskup Denpasar. (Tim Penulis Buku:  Rm. Evensius Dewantoro, Pr (Koordinator) Rm. Thomas Almasan, Pr, Agus G. Thuru, Emanuel Djomba, SS, Hironimus Adil, Valeryan Faris Wangge)

Sambutan Administrator Keuskupan Denpasar

Salam Sejahtera. Kapan Keuskupan Denpasar diberi seorang Uskup baru? Pertanyaan ini sering terucap kala umat bertemu dengan saya. Pertanyaan ini mengisyaratkan bahwa kehadiran seorang Uskup baru sungguh didambakan. Umat memerlukan guru dalam ajaran, imam dalam ibadat dan pelayan dalam kepemimpinan. Kerinduan yang dibarengi doa menjadi kenyataan ketika Paus Benediktus XVI pada tanggal 22 November 2008 mengumumkan Rm. Silvester San, Pr sebagai Uskup ke-6 Keuskupan Denpasar. Kita patut bersyukur dan bergembira karena Bapa di Surga menjawabi permohonan kita pada waktunya.
Mgr. Silvester seorang pekerja keras dan tekun serta sederhana adalah beberapa kekayaan pribadinya. Kekayaan-kekayaan ini tentunya akan beliau gunakan dalam menumbuhkan Kerajaan Allah di wilayah Keuskupan Denpasar.
Ada pelbagai harapan yang mucul dengan hadirnya seorang uskup baru. Harapan-harapan yang muncul di benak kita merupakan suatu yang alamiah. Namun perlulah kita sadari bahwa segala harapan tidak serta merta dipenuhi oleh seorang Uskup tanpa keikutsertaan kita dalam pelaksanaan pelbagai program pastoral.
Mgr. Silvester memilih motto: “Deus Incrementum Dedit” (Tuhan yang memberi pertumbuhan). Lewat motto ini beliau ingin mengajak kita semua untuk menyadari bahwa Allah adalah inisiator utama pertumbuhan dan kalau kita diikutsertakan dalam karyaNya itu semata-mata karena kasihNya kepada kita. Untuk itu kita perlu bekerja sama dengan Allah dan sesama dalam pelaksanaan rencana-rencana yang kita rancangkan untuk pertumbuhan keuskupan kita.
Perayaan pentahbisan adalah moment yang tepat untuk meningkatkan mutu kerja sama di antara dan sekaligus awal kerja sama kita dengan Mgr. Silvester. Saya mengajak semua umat untuk ikut berpartisipasi dalam persiapan acara ini. Kesiapan kita untuk merayakan rahmat panggilan imamat tingkat tinggi yang diterima oleh Mgr. Silvester adalah kekuatan yang dapat kita berikan di awal tugas pelayanannya.
Mgr. Silvester, terima kasih berlimpah untuk kesediaanmu untuk menjadi gembala kami. Profisiat dan selamat datang di Keuskupan Denpasar. Dumadak Sang Hyang Tritunggal Mahasuci nyarengin tur ngagobin Bapa Uskup.
ttd
Rm. Yosef C. Wora, SVD

Sambutan Ketua Panitia

Salam Sejahtera
Hari ini merupakan hari yang sangat mulia dan berbahagia telah dikaruniakan Tuhan kepada umat di Keuskupan Denpasar. Setelah setahun ditinggalkan oleh almarhum Uskup DR. Benyamin Yosef Bria, Pr, dengan tekun umat berdoa dan memohon kepada Tuhan dan akhirnya masa penantian telah berakhir dan hari ini secara nyata permohonan kita telah dikabulkan dan diwujudkan oleh Tuhan dalam diri uskup kita yang baru Yang Mulia dan yang kita cintai Mgr. DR. Sylvester San, Pr.
Karena itu marilah kita pada tempat pertama memanjatkan puji syukur kepada Tuhan yang telah mengutus dan memberikan umat Keuskupan Denpasar seorang gembala baru. Pada pertemuan pertama panitia di Istana Keuskupan Denpasar jalan Tukad Balian tanggal 20 Januari 2009 lalu dengan beliau, kami sangat terkesan dengan kepribadian beliau. Seorang uskup bijaksana, pintar, energik, rendah hati, ramah, penuh perhatian pada orang lain, sederhana dan masih muda lagi, sampai-sampai waktu itu mata saya seakan-akan tidak percaya bahwa beliau seangkatan dengan Romo Administrator kami Romo Yosef Wora, SVD, sehingga saya sempat bercanda “Bapa Uskup seperti orang yang baru berusia 40 tahun.” Akhirnya kita menyadari itulah kebesaran Tuhan, kebijaksanaan yang dianugerahkan Tuhan kepada seseorang tidak bisa diukur dari putihnya rambut seseorang.
Selanjutnya atas nama umat Keuskupan Denpasar kami berterima kasih kepada Yang Mulia Duta Besar Vatikan Mgr. Leopoldo Girelli yang telah berkenan dan tekun mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pemilihan uskup kita Mgr. DR. Sylvester San, Pr. Demikian pula terima kasih kami haturkan kepada Uskup Pentahbis Mgr. Vicentius Sensi, Pr, Uskup Pendamping Mgr. Cherubim Pareira, SVD dan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr yang telah menyelenggarakan upacara pentahbisan ini.
Terima kasih pula kepada Yang Mulia Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ, Yang Mulia Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.Cap, Yang Mulia para Uskup lainnya dan para Administrator yang sudah berkenan ikut ambil bagian dalam upacara tahbisan ini.
Demikian pula terima kasih kepada para donatur dan kepada siapa saja yang telah ikut serta mengulurkan tangan, membantu baik secara moril, materiil, doa-doa dan apapun juga bentuknya, sehingga upacara tahbisan ini telah berjalan dengan baik dan sukses. Semoga Tuhan yang membalasnya.Tidak lupa pula kami atas nama panitia Tahbisan Uskup Denpasar mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila tegur sapa ataupun pelayanan kami selama ini ada yang kurang berkenan atau tidak mengenakkan.
Akhirnya, kami mengajak seluruh umat Keuskupan Denpasar, mari kita bahu membahu dengan Uskup kita yang baru Mgr. Sylvester San, Pr dalam mengemban tugas yang diberikan oleh Kristus kepada kita untuk menjadi terang dan garam dunia, seperti Rasul Paulus menyatakan: “Aku yang menanam, Apolos yang menyiram dan Tuhanlah yang memberikan buah,” demikianlah para mendiang uskup terdahulu telah menanam dan uskup baru kita yang akan menyiram dan Tuhanlah yang akan memberi buah. “Deus Incrementum Dedit” itulah moto beliau yang berarti “Tuhan yang memberikan pertumbuhan,” dan mari kita menjawab dalam karya dan doa: “Faceat Illum Dominus Crescere In Plebe Sua” Semoga Tuhan membuat beliau bertumbuh kembang pada umatnya. Amin.

Denpasar, 19 Februari 2009
Pieter Made Puryatma, SH
Ketua Umum

Sambutan Duta Besar Vatican

Lectori Salutem,
Damai sejahtera bagi semua pembaca
Buku Kenangan ini
Dengan perasaan kebahagiaan yang sepenuhnya saya, pada tempat yang pertama, mengucapkan kepada Yang Mulia Monsignore Silvester Tung Kiem San, Uskup terpilih untuk Keuskupan Denpasar, Vivat, Crescat dan Floreat.
Memang, sudah cukup lama umat beriman Keuskupan Denpasar yang sede vacante semenjak wafatnya Monsignore Benyamin Yosef Bria pada tanggal 18 September 2007 yang lalu, menantikan datangnya Kabar Gembira dari Vatikan tentang Gembala keuskupan yang akan melanjutkan pewarisan Apostolik Takhta Keuskupan ini. Dan pada tanggal 22 November 2008 yang lalu, tibalah Kabar Gembira itu bagaikan lagu yang sungguh merdu, karena bertepatan dengan hari peringatan Santa Caecilia. Oleh karena itu, ijinkanlah saya juga, pada tempat kedua, mengucapkan selamat kepada segenap jajaran para Imam, baik diosesan maupun biarawan, kepada segenap Biarawan dan Biarawati serta umat beriman di Keuskupan ini.
Saya yakin, pastilah Monsignore San menyadari sungguh-sungguh, betapa tidak mudah dan ringan mengemban kewajiban untuk “menjaga seluruh kawanan, karena beliau ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri itu” (Kis 20:28). Dan sama dengan keadaan di seluruh Indonesia, juga di Keuskupan yang berpusat di Pulau Dewata ini, umat katolik hanya merupakan minoritas yang bahkan sangat kecil, itupun sangat heterogen sifatnya. Namun, kerukunan dan keutuhan kompak yang hidup dan berdaya dari kawanan kecil yang heterogen ini, apalagi bersama dengan Dia, “yang menguatkan, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita” (1Tim 1:12), menjadi jaminan dibenarkannya sabda Tuhan: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32).
Keyakinan inilah yang kiranya juga membuat beliau mengatakan “ya” kepada tawaran Bapa Suci untuk memangku jabatan Uskup Keuskupan Denpasar. Akan ada banyak Apolos yang menyirami apa yang beliau sudah tanam, misalnya selama karyanya di Seminari bersama dengan para calon imam, tetapi tetap “Allahlah yang memberi pertumbuhan” (1Kor 3:7). Maka keyakinan dasar itulah yang oleh beliau kemudian dijadikan, baik motto episkopal pribadinya sendiri, maupun motto seluruh umat Keuskupan yang akan menjadi gembalaannya: “Deus incrementum dedit”.
Pastilah, terutama untuk Pulau Dewata yang kesohor di seluruh dunia ini sebagai Pulau Pariwisata, bersama dengan seluruh jajaran kekuatan terpadu dari umat keuskupan yang heterogen ini, akan dikembangkan pula metoda-metoda pastoral yang serasi untuk memupuk hidup rohani mereka, yang dalam rangka berlibur, untuk sementara datang berkunjung dan menetap di kawasan Keuskupan ini (lih. Kons.Vat. II, Christus Dominus, 18).
Monsignore Silvester Tung Kiem San yang saya muliakan, saya mengucapkan “Selamat” atas pemilihan, pengangkatan dan penahbisan Monsignore sebagai Uskup Keuskupan Denpasar yang baru, dan dengan tulus saya haturkan pula dukungan moral dan spiritual saya kepada Yang Mulia, bersama dengan seluruh Umat beriman terkasih yang dipercayakan kepada reksa pastoral Yang Mulia. Monsignore menanam, seluruh umat beriman menyiram, dan Deus incrementum dedit.
Saya mengucapkan Proficiat, dalam penyertaan berkat Tuhan.
Jakarta, 1 Februari 2009.
Teriring Salam dan Berkat kami,

Sambutan Uskup Denpasar
“Deus Incrementum Dedit” Allah yang Memberi Pertumbuhan
(I Kor 3 : 7)

Saudara dan saudariku yang terkasih dalam Tuhan,
Pengangkatan Tahta Suci atas diri saya menjadi Uskup Denpasar merupakan momen penting bagi hidup saya dan bagi umat di Keuskupan Denpasar saat ini. Pada mulanya saya memang sangat terkejut dan tidak percaya ketika Nuncius, Mgr. Leopoldo Girelli menyampaikan kepada saya berita tersebut, sebab saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi Uskup.
Dalam refleksi dan doa, saya menyadari bahwa saya tidak layak dan tidak sanggup untuk menerima kepercayaan Tahta Suci ini, sebab di samping saya tidak mengenal situasi Keuskupan Denpasar, saya juga sadar bahwa Uskup mempunyai tanggung jawab yang mahaberat. Namun setelah pergulatan batin yang panjang, saya akhirnya berani untuk memberi jawaban positif yang boleh dirumuskan sebagai berikut: kalau saya mengikuti kehendak pribadi, saya tidak dapat menerima pengangkatan Tahta Suci ini karena alasan tersebut di atas; selain itu saya juga merasa berat untuk meninggalkan pulau Flores dan Keuskupan Agung Ende dengan segala nostalgianya. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa pengangkatan ini mungkin kehendak Allah melalui Tahta Suci. Oleh karena itu dalam iman saya menyatakan ketaatan kepada Tahta Suci; dengan berat hati saya bersedia menerima pengangkatan menjadi Uskup Denpasar bukan demi interese pribadi, melainkan demi kepentingan pelayanan Gereja Universal dan umat Allah di Keuskupan Denpasar.
Sepantasnya saya menyatakan syukur berlimpah kepada Tuhan yang telah melimpahkan berkat dan rahmatNya kepada saya dan umat Keuskupan Denpasar. Bersama Pemazmur hendaknya kita semua bermadah: “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya” (Mzm. 107:1). Juga dari hati yang ikhlas saya mengucapkan limpah terima kasih kepada Sri Paus Benediktus XVI yang telah menyalurkan rahmat Tuhan tersebut demi kepentingan pelayanan umat Allah di Keuskupan Denpasar. Kiranya tugas dan tanggung jawab ini dapat dijalankan dengan baik dan penuh semangat.
Perlu diingat bahwa semua jabatan di dalam Gereja, termasuk jabatan Uskup adalah jabatan untuk melayani, dan seorang pelayan hendaknya memperhatikan kata-kata Yesus, Sang Pelayan Sejati: Barang siapa ingin menjadi besar, ia harus menjadi yang terkecil dan pemimpin sebagai pelayan” (Luk. 22:26). Pelayanan adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sering kali tidak mudah untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar semangat melayani tanpa pamrih merasuki bukan hanya Uskup, melainkan juga semua fungsionaris pastoral terbaptis dan tertahbis, serta semua umat di Keuskupan Denpasar. Kita semua diajak untuk melayani tanpa pamrih dan dengan kerendahan hati. Dalam hal ini yang perlu disadari dan diperhatikan bahwa pelayanan yang total dan tanpa pamrih seringkali digerogoti atau dihalangi oleh interese pribadi dan sikap egoisme.
Saya menyadari bahwa umat katolik di Keuskupan Denpasar yang tersebar di dua Propinsi (Bali & NTB) dan tiga pulau (Bali, Lombok, Sumbawa), termasuk dalam kelompok minoritas. Oleh karena itu saya mengharapkan agar semangat dialog dengan pihak lain tetap harus dinyalakan, sambil semangat solidaritas dalam Kelompok Basis Gerejani hendaknya dihayati dalam hidup harian.
Selanjutnya, disadari juga bahwa kenyataan heterogenitas atau keanekaragaman etnik di Keuskupan Denpasar, di satu pihak merupakan hal positif yang dapat memperkaya kehidupan bersama, namun di pihak lain kenyataan ini bisa membawa dampak negatif. Tidak terhindarkan bahwa dalam situasi heterogen akan tercipta aneka kompetisi, yang kalau tidak dilaksanakan dalam semangat kristiani, akan menjurus ke konflik dan perpecahan. Situasi heterogen ini mengingatkan kita akan situasi umat di Korintus pada jaman Rasul Paulus yang terancam oleh berbagai konflik dan perpecahan dalam kelompok Apolos, Paulus, Kefas, dan lain-lain (bdk.1 Kor. 3:1-9), dan oleh Paulus mereka masih disebut manusia duniawi; oleh karena itu Paulus menghimbau mereka untuk selalu bersatu padu dalam Allah, agar mereka dapat disebut manusia rohani. Harapan yang sama juga saya tujukan kepada seluruh umat, biarawan-biarawati serta para fungsionaris pastoral terbaptis dan tertahbis di Keuskupan Denpasar. Kita semua adalah rekan-rekan sekerja Allah yang harus bekerja keras dan bekerja sama untuk melayani Gereja di Keuskupan Denpasar. Dan supaya dapat bersatu padu dalam tugas pelayanan tersebut, kita hendaknya mengandalkan kekuatan Tuhan dan bukan pada kekuatan manusiawi kita. Yang terpenting bukan yang menanam atau yang menyiram, melainkan “Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor. 3:7).
Akhirnya, the last but not least saya mengucapkan limpah terima kasih kepada Romo Administrator, Ketua Panitia Pentahbisan Uskup Denpasar dan segenap anggotanya, serta siapa saja yang telah terlibat dan berbuat baik untuk mensukseskan perayaan Ibadat Salve Agung, Tahbisan Uskup Denpasar dan Misa Pontifikal pada tanggal 18, 19 dan 20 Pebruari 2009. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dengan Rahmat berlimpah!

Ritapiret, 20 Januari 2009
ttd
Mgr. DR. Silvester San, Pr.


MAKNA LAMBANG USKUP DENPASAR
MGR. DR. SYLVESTER SAN, PR

1. Mitra Uskup Berlanggam Bali: Melambangkan wewenang dan tugas Uskup sebagai pemimpin yang membela kebenaran, menegakkan keadilan, mengusahakan keselamatan dan kebahagiaan umat manusia dengan semangat pelayanan penuh kasih. Ciri khas budaya Bali terlihat dari mahkota yang berlanggam Bali.
2. Burung Merpati: Melambangkan Roh Kudus sebagai penolong, penghibur dan pemimpin yang menuntun umat agar hidup sejalan dengan kehendak Tuhan.
3. Tali Ikat Pinggang Hijau dengan duabelas simpul: Melambangkan hirarki dalam tingkat Uskup, pengganti keduabelas rasul.
4. Tongkat dan Salib: Melambangkan tugas Uskup sebagai gembala umat yang memimpin dan meneguhkan iman umat dengan bersandar pada Salib Kristus.
5. Perisai: Di dalam perisai terdapat lima simbol yang terdiri dari:
o Pohon dengan Salib: Pohon melambangkan pertumbuhan dan Salib adalah simbol dari Kristus yang memberi pertumbuhan dan yang diwartakan kepada semua orang.
o Roti dan Piala: Melambangkan tubuh dan darah Kristus.
o Alkitab dengan Simbol Alfa-Omega: Melambangkan Yesus sebagai Firman Tuhan yang menjadi pelita dan terang bagi jalan umatNya; Simbol Alfa dan Omega melambangkan kehadiran Yesus sebagai awal dan akhir.
o Orang Banyak dan Gereja: Melambangkan keanekaragaman etnik umat Keuskupan Denpasar yang bergandengan tangan menuju Kerajaan Allah.
o Rumah Adat dan Pulau: Melambangkan daerah teritorial Keuskupan Denpasar yang meliputi Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa.
6. Pita yang Bertuliskan “DEUS INCREMENTUM DEDIT”: merupakan Motto tugas kegembalaan Uskup Denpasar, yang artinya “Allah yang memberi pertumbuhan” ( 1 Korintus 3:7).

Penjelasan Moto

“Deus Incrementum Dedit (Allah yang memberi pertumbuhan), I Kor 3:7.”
Motto ini dilatarbelakangi oleh konteks Jemaat Korintus yang minoritas dan heterogen; ada kelompok Paulus, Apolos, Kefas, dan lain-lain. Sering terjadi kompetisi antar kelompok-kelompok yang bisa menjurus pada konflik dan perpecahan. Dalam situasi itu Paulus menghimbau untuk bersatu: “Aku Paulus yang menanam dan Apolos yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan; yang penting bukan yang menanam atau yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Baik Paulus maupun Apolos adalah rekan-rekan sekerja Allah yang harus bekerja keras dan bekerja sama untuk pertumbuhan Jemaat. Tetapi mereka perlu menyadari bahwa pertumbuhan Jemaat bukan bergantung sepenuhnya pada mereka, melainkan pada Allah. Situasi Keuskupan Denpasar juga haterogen, mungkin motto ini cukup cocok. Kesadaran pada peran Allah yang utama membuat kita para fungsionaris pastoral mau bersatu dan bekerja sama untuk pertumbuhan Keuskupan Denpasar tanpa merasa paling penting.

Profil Uskup Denpasar
Riwayat Hidup Uskup Denpasar
MGR. DR. SILVESTER SAN, PR

1. Nama Lengkap : Mgr. DR. Silvester San, Pr.
2. Tempat/Tanggal Lahir : Mauponggo, 14 Agustus 1961
3. Anak ketiga dari sembilan bersaudara
§ Ayah : Roben Robo
§ Ibu : Katharina Nere
4. Pendidikan:
§ SDK Maukeli, Ngada
§ Seminari Toda Belu- Mataloko (SMP-SMA) 1974-1980
§ Tahun Rohani di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Kabupaten Sikka tahun 1980
§ Studi Filsafat dan Teologi di STFK Ledalero, Kabupaten Sikka
5. Tahbisan imam: 29 Juli 1988 oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, di Maumere.
6. Pastor Pembantu Paroki Roh Kudus sambil mengajar di Seminari Mataloko selama dua tahun.
7. Melanjutkan studi ke Roma pada Universitas Urbanianum, Spesialisasi Teologi Biblis.
8. Gelar Licenciat diperoleh tahun 1992 dengan tesis The Mercy of God in the Parables of Luke 15.
9. Pembina Para Frater di Seminari Ritapiret dan pengajar di STFK Ledalero.
10. 1995-1997 melanjutkan studi program S3 pada Universitas Urbanianum dalam Teologi Biblis, dengan disertasi doktor: “The Experience of the Risen Lord in Luke 24:1-35”.
11. Pengajar di STFK Ledalero dan pembina Frater di Seminari Tinggi Ritapiret.
12. Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode 2004-2007.
13. Diangkat lagi Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode kedua pada tahun 2007 - sekarang.
14. Tanggal 22 November 2008 diangkat sebagai Uskup Denpasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar