Friday, March 19, 2010

PROFIL GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN DENPASAR

SITUASI BALI DAN NUSA TENGGARA BARAT

Provinsi Bali dibentuk berdasarkan UU No. 64/1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dan berdasarkan UU Nomor 64/1958 dibentuk daerah-daerah tingkat II (Kabupaten) di Provinsi Bali yakni Kabupaten Badung dengan ibukota di Sempidi, Kabupaten Tabanan dengan ibukota di Tabanan, Kabupaten Jembrana dengan ibukota di Negara, Kabupaten Buleleng dengan ibukota di Singaraja, Kabupaten Gianyar dengan ibulota di Gianyar, Kabupaten Klungkung dengan ibukota di Klungkung, Kabupaten Bangli dengan ibukota di Bangli dan Kabupaten Karangasem dengan ibukota di Amlapura.1).Dalam perkembangannya Kota Denpasar menjadi Kotamadya Denpasar.
Penduduk Pulau Bali terdiri dari Suku Bali dan suku-suku pendatang seperti Jawa, NTT, Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Timor Timur, juga WNI keturunan Tionghoa dan Eropa, Arab dan lain-lain. Menurut data tahun 2006 jumlah penduduk Bali 3.263.296 jiwa terdiri dari laki-laki 1.635.414 jiwa dan perempuan 1.627.881jiwa.2)
Secara berturut-turut Provinsi Bali dipimpin oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Anak Agung Bagus Sutedja (1959-1965), I Gusti Putu Merta (Pjs 18 Desember 1965 sampai dengan 1 November 1967), Kolonel Infanteri Sukarmen dan Wakil Gubernur I Gusti Ngurah Pinda,BA (1967-1971,1971-1978),Prof.DR.Ida Bagus Mantra dan Wakil Gubernur I Dewa Gede Oka (1978 -1983, 1983-1988), Prof.Dr. dr Ida Bagus Oka dan Wakil Gubernur Kol.Inf.Aspar Aswin (1988 – 1993), Prof.Dr.dr. Ida Bagus Oka dan Wakil Gubernur Kol.Inf.Aspar Aswin (1993-1998),Drs. Dewa Made Beratha dan Wakil Gubernur I Ketut Wijana,SH dan I Gusti Alit Putra (1998 – 2003), Drs. Dewa Made Beratha dan Wakil Gubernur IGN Alit Kusuma Kelakan,ST (2003-2008) 3)
Kini Provinsi Bali dipimpin oleh Gubernur Made Mangku Pastika dan Wakil Gubernur Anak Agung Ngurah Puspayoga. Mereka memimpin Bali periode 2008-2013 setelah menang dalam Pilkada langsung bulan Juli 2008 lalu.
Provinsi Nusa Tenggara Barat dibentuk berdasarkan UU No.64/1958. Berdasarkan UU yang sama dibentuk kabupaten-kabupaten Lombok Barat dengan Ibukota Mataram, Lombok Tengah dengan ibukota Praya, Lombok Timur dengan ibukota Selong, Sumbawa dengan ibukota Sumbawa besar, Dompu dengan ibukota Dompu dan Bima dengan ibukota Bima.
Dalam perkembangannya terjadi pemekaran dimana Kota Mataram menjadi Kotamadya Mataram, kota Bima menjadi Kotamadya Bima.Kabupaten Sumbawa dimekarkan menjadi Kabupaten Sumbawa Barat dengan ibukota di Taliwang sedangkan Kabupaten Lombok Barat dimekarkan menjadi Kabupaten Lombok Utara dengan ibukota di Penang.4)
Suku-suku yang mendiami wilayah Nusa Tenggara Barat adalah suku Sasak di Lombok, suku Mbojo di Bima dan Dompu serta suku Samawa di Sumbawa. Suku-suku pendatang yakni Jawa, Sumatera, kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, Timor Timur, NTT, Tionghoa, Arab dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei ekonomi nasional tahun 2006 jumlah penduduk Nusa Tenggara Barat mencapai 4.257.306 juta jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 2.943.458 jiwa dan perempuan sebanyak 2.213.848 jiwa.5)
Sejak tahun 1958 secara berturut-turut Provinsi Nusa Tenggara Barat dipimpin oleh Gubernur Ruslan Tjakraningrat (1958-1968), HR Warsita Kusumah (1968-1979), Gatot Suherman (1979-1988), Brigjen Warsito (1988-1998), Harun Al Rasyid (1998-2003), HM Srinata - (2003-2008). Kini NTB dipimpin oleh Gubernur TGH Muhammad Zainul Majdi,MA dan Wakil Gubernur Badrul Munir,MM. Mereka akan memimpin NTB periode 2008-2013.

JEJAK SANG PENABUR

Sampai dengan tahun 1935 di Bali tak ada satu pun yang beragama katolik. Bahkan karya misi di pulau Bali diawali dengan penuh keraguan sekaligus juga harapan. Prefektur Apostolik Sunda Kecil yang pertama Mgr. H.Noyen,SVD yang sejak 1913 beberapa kali mengunjungi Bali mengatakan; “Hanya imam-imam yang sungguh-sungguh rendah hati, sabar, kudus dan terpelajar akan berhasil di tengah-tengah masyarakat Bali” 6)
Saat mengawali karya misi di Bali tanggal 11 September 1935 P.J. Kersten,SVD diliputi dengan keragu-raguan sekaligus harapan. Ia memulai sebuah karya misi di tengah pluralitas masyarakat Bali yang tak seorang pun penduduk asli beragama katolik. Ia menulis; “Tidak mudah mendapat ide bagaimana memulai suatu misi di pulau di mana tak ada seorang pun yang katolik dan di mana pemerintah melawan segala macam karya misi”. 7)
Pada bulan November 1935 dua katekis protestan bertemu dengan P.J.Kersten,SVD. Mereka adalah I Wayan Dibloeg dan I Made Bronong dari Desa Tuka,Bali.Mereka adalah kelompok yang penuh keraguan setelah ditinggalkan misi protestan. Pertemuan itu menjadi tonggak sejarah Gereja Katolik Bali. Pada Hari Raya Pentekosta 1936 I Wayan Dibloeg dan I Made Bronong bergabung ke dalamGereja Katolik. Pada hari itu juga terjadi pembaptisan 8 orang dewasa dan 32 anak-anak. Dan inilah umat katolik perdana di Pulau Bali.
Tetapi P.Kersten selalu diliputi dengan harapan bahwa karya misi yang dimulainya tidak akan sia-sia.Tahun 1936 karya misinya telah berbuah. Dalam catatan M.Covarrubias, keberhasilan karya misi P.J.Kersten didukung oleh pendekatan ‘bermisi sesuai pengalaman’ manusia di mana karya misi itu dilaksanakan.P.J.Kersten sungguh memahami keunikan dan kekhasan masyarakat Bali tempat di mana ia melaksanakan karya misi. Keberhasilan P.J. Kersten, SVD dalam karya misinya di pulau Bali, karena ia belajar bahasa Bali, belajar budaya Bali dan memahami secara mendalam keanekaragaman social masyarakat Bali. 8)
Kerja Roh Kudus tak bisa dibendung.Gereja Katolik Keuskupan Denpasar (Bali & NTB) tumbuh dan berkembang mengarungi sejarahnya dalam masyarakat yang sangat kaya dengan perbedaan-perbedaan. Ada sekian aneka suku, ras, agama, pulau, bahasa, budaya, latar belakang sejarah dan lain-lain. Dan Gereja berakar di tengah pluralitas itu, terbuka kepada suara Tuhan yang berbicara kepada kita melalui pluralitas itu.

Misionaris Serikat Yesus (SJ)

Menurut Lontar Purana (Koleksi Gedong Kirtya Singaraja No 827 ) pada abad ke-14 di Bali berdiri kerajaan Gelgel di Klungkung. Antara tahun 1550 – 1580 Kerajaan Gelgel diperintah oleh Raja Dalem Di Made. Beliau pada tahun 1635 menulis surat pada daun lontar yang meminta orang-orang Portugis di Malaka untuk datang berdagang ke Gelgel dan mengirim misionaris untuk memperkenalkan agama Kristen. Isi lontar itu sebagai berikut; “Saya senang sekali jika mulai sekarang kita bersahabat dan orang datang ke pelabuhan ini untuk berdagang. Sayapun akan senang sekali jika imam-imam datang ke sini agar siapa saja yang menghendaki dapat memeluk agama Kristen”. 9)
Pada tanggal 11 Maret 1635 Pater de Azevedo SJ dan Pater Manuel Carnalho SJ meninggalkan Malaka menuju Bali. Tanggal 12 Desember 1635 Provinsial Kochin menulis surat kepada Superior Jenderal SJ di Roma yang mengabarkan bahwa dua misionaris itu telah tiba di Bali. Namun apa yang terjadi sesudah itu tak diketahui karena tidak ada informasi lebih lanjut. 10)
Tanggal 10 Maret 1891 Vikaris Apostolik Batavia mengajukan surat permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mendapat izin mengirim tenaga ke Bali Utara. Tanggal 25 Mei 1891 Gubernur Jenderal mengirim surat jawaban kepada Vikaris Apostolik Batavia. Ia mengatakan; “Dari pihak saya tak ada sesuatu keberatan bila satu atau dua misionaris mulai menetap di Buleleng di pulau Bali, dengan maksud mempelajari bahasa Bali dan sesudah itu untuk menetap di Buleleng guna memulai karya misi di antara masyarakat umum.” Tapi karena masalah tenaga hal ini tidak dapat dimanfaatkan. 11)
Antara tahun 1898 – 1900 Pastor Timers datang ke Lombok (Catatan Lekerkerker Nos 287 dan Nos 300). Antara tahun 1906 – 1908 Pastor Fischer berada di Badung dan Klungkung (Catatan Lekerkerker Nos 363 dan Nos 373). Kedua imam ini berada di Lombok dan badung untuk memberikan pelayanan rohani kepada militer dan pegawai-pegawai Hindia belanda yang beragama katolik.

Mgr. H. Noyen,SVD.

Pada tanggal 8 Maret 1912 wilayah gerejani Sunda Kecil diserahkan kepada Serikat Sabda Allah (SVD). Tanggal 16 September 1913 wilayah Sunda Kecil menjadi Prefektur Apostolik Sunda Kecil meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor dan pulau-pulau sekitarnya. Pusat Prefektur Apostolik Sunda Kecil di Ende Flores.
Tahta Suci Vatican mengangkat Mgr.H. Noyen sebagai Prefektur Apostolik dan bertempat tinggal di Ndona,Ende. Pada tahun 1916 Mgr.H.Noyen beberapa kali mengunjungi Bali untuk memberikan pelayanan rohani kepada sejumlah orang Eropa dan Melayu yang beragama katolik. 12)
Tanggal 26 September 1920 Mgr.H.Noyen mendapat dukungan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk boleh membuka HIS, di Bali, sebuah sekolah untuk kalangan ekonomi tinggi. Untuk maksud itu ia memilih kota Klungkung sebagai tempat paling strategis untuk mendirikan sekolah. Namun karena kekurangan tenaga kesempatan itu tak dimanfaatkan.
Tahun 1920 Mgr.H. Noyen,SVD berangkat ke Roma setelah mengadakan suatu audiense dengan Gubernur Jenderal di Jakarta dalam urusan pendirian sekolah di Bali dan urusan lain-lainnya. Dalam salah satu pesannya beliau menulis; “Semoga waktunya segera tiba, misionaris-misionaris kita bisa bekerja di Bali; tetapi hanya imam-imam yang sungguh-sungguh rendah hati, sabar, kudus dan terpelajar akan berhasil di tengah-tengah umat Bali. Dalam sepuluh tahun pertama karya misi di sana tidak akan dapat mengharapkan pertobatan tetapi bila waktunya tiba untuk mulai panenan, saya yakin bahwa orang-orang Kristen Bali akan menjadi contoh umat beriman di Indonesia. Mereka akan menjadi orang-orang yang mampu untuk memegang jabatan-jabatan dalam perniagaan, kesenian, politik atau jabatan kegerejaan. Tuhan akanmeminta kurban dan mungkin sekali hidup para misionaris, tetapi dalam roh saya telah membayangkan Bali dimahkotai dengan gereja-gereja katolik. “13)
Tanggal 10 Pebruari 1921 Kantor Jawatan Pengajaran dan Agama Batavia minta ketegasan dari Prefektur Apostolik Sunda Kecil di Ndona soal misi Bali dan Lombok. Tanggal 6 April 1921 Pater de Lange memberi kabar kepada Generalat SVD di Roma bahwa sudah ada ijin membuka sekolah di Bali namun tidak ada tenaga.
Tanggal 8 April 1921 P.de Lange memberi jawaban kepada Kantor Jawatan Pengajaran dan Agama Batavia mengatakan agar permohonan mendirikan sekolah di Bali ditunda. Hal ini disebabkan tak ada tenaga untuk ditempatkan di Bali. Mgr. H. Noyen jatuh sakit kemudian dirawat ke Eropa dan meninggal dunia tanggal 24 Pebruari 1921.

Mgr. Verstraelen,SVD

Pengganti Mgr.H. Noyen adalah Mgr. Verstraelen,SVD sejak tahun 1922.Pada tanggal 11 Juni 1924 Mgr. Verstraelen mengajukan permohonan kepada Kantor Jawatan Pengajaran dan Agama Batavia untuk mendirikan sebuah sekolah Hollancdch Inlansche School (HIS) di Bali.Tetapi tidak mudah mendirikan sebuah sekolah katolik di Bali dimana waktu itu tak seorang pun penduduk asli Bali beragama katolik.
Tanggal 12 Maret 1925 Mgr. Verstraelen mengirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda agar permohonan mendirikan sekolah katolik di Bali yang diajukan tanggal 11 Juni 1924 didiamkan dulu.Baru pada tanggal 12 Mei 1925 permohonan mendirikan sekolah di Bali disetujui oleh Jawatan Pengajaran dan Agama Batavia. Tetapi tanggal 20 Mei 1925 melalui telegram Mgr. Verstraelen,SVD mengabarkan kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa untuk sementara usaha-usaha misi untuk Bali didiamkan sementara. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kekurangan tenaga misionaris untuk ditempatkan di Bali.
Upaya-upaya selanjutnya adalah meningkatkan intensitas kunjungan pastoral ke Bali. Mgr. Verstraelen dan beberapa imam dari Ende terus mengunjungi Bali. Bulan April 1926, Mgr. Verstralen mengunjungi Bali menyusul bulan Oktober 1926 P.Schollemmer juga mengunjungi Bali.
Bulan April 1927 Mgr. Verstraelen mengunjungi Bali menyusul tanggal 25 Juni 1928 P.van Velsen,SVD mengunjungi Bali dan Pater Limbrok tinggal di Bali selama enam minggu pada November sampai Desember 1928.Tanggal 21 Januari 1930 Mgr. Verstraelen kembali mengunjungi Bali dan tanggal 7 Januari 1932 Mgr. Verstraelen mengunjungi Bali dan Lombok.Dalam suatu kecelakaan di Boalobo (ruas jalan antara Ende-Bajawa) tanggal 16 Maret 1932 terjadi kecelakaan oto dan Mgr. Verstraelen meninggal dunia. Ia kemudian digantikan oleh Mgr. Hendrikus Leven,SVD.
Bulan Mei 1932, P.Simon Buis SVD mengunjungi Bali. Ia melaporkan banyak hal tentang kegiatan misi Kristen di pulau Bali. Simon Buis kembali mengunjungi Bali pada 21 Juni 1932 dan tanggal 11 Maret 1932 berusaha mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menempatkan misionaris di pulau Bali dan Lombok seperti yang diberikan kepada misi CMA.Bulan Desember 1932 Regional SVD P.J.Bouman bersama pater van der Heijden,SVD mengunjungi Bali. Tanggal 16 November 1933 Pater van der Heijden,SVD yang berkunjung ke Bali melaporkan, di Bali dan Lombok sudah ada 150 umat katolik. 14)

Mgr. H. Leven,SVD

Pengganti Mgr. Verstraelen,SVD adalah Mgr. H.Leven,SVD.Tahun 1934 Gubernur Jenderal Hindia Belanda bertemu dengan Mgr. H.Leven di Ndona. Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengatakan; “Tuan boleh berharap bahwa dalam waktu dekat ini akan ada penyelesaian yang memuaskan mengenai masalah di Bali.” Ungkapan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini bagi Mgr. H.Leven merupakan angin segar bagi pewartaan Injil di Bali dan Lombok.(Arsip Keuskupan Agung Ende,hal.30)
Pater van der Heijden,SVD tiba di Mataram Lombok tanggal 14 Mei 1935. Tugas mereka adalah melayani umat katolik Eropa, Cina, Jawa dan Flores . Dengan demikian masa pertumbuhan karya misi di Keuskupan Denpasar dimulai sejak tahun 1935. 15)

P.J. Kersten,SVD

Tahun 1935 Mgr. H.Leven mewujudkan keinginannya menempatkan misionaris di Denpasar yakni Pater J.Kersten SVD yang tiba di Denpasar Bali pada 11 September 1935. PaterJ.Kersten SVD berhadapan dengan sejumlah masalah, terutama soal bahasa. Ia tekun belajar bahasa dan budaya Bali. PaterJ.Kersten SVD menerbitkan hasil penelitiannya dalam Balische Grammatica atau Tata Bahasa Bali dan Kamus Umum Bahasa Bali-Indonesia. Ia dibantu oleh tenaga awam antara lain Pan Bukian, Made Merta yang menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Bali.
Tentang tugasnya di Bali Pater Kersten menulis; “Tidak mudah mendapat ide bagaimana memulai suatu misi di pulau di mana tak seorang pun yang katolik dan di mana pemerintah melawan segala macam karyamisi.” 16)
Pada bulan November 1935 dua katekis protestan bertemu dengan P.J.Kersten,SVD. Mereka adalah I Wayan Dibloeg dan I Made Bronong dari Desa Tuka,Bali. Pertemuan itu menjadi tonggak sejarah Gereja Katolik Bali. Pada Hari Raya Pentekosta 1936 I Wayan Dibloeg dan I Made Bronong bergabung ke dalam Gereja Katolik. Pada hari itu juga terjadi pembaptisan 8 orang dewasa dan 32 anak-anak. Dan inilah umat katolik perdana di Pulau Bali.
Tanggal 12 Juli 1936 sejarah Gereja Bali kembali diukir yakni peletakan batu pertama pembangunan Gereja Tuka oleh P.J.Kersten,SVD disaksikan oleh P.van der Heijden,SVD dan P.Conrad,SVD. Di tengah usaha membangun gereja, P.Kersten jatuh sakit.

P. Simon Buis,SVD

Tanggal 29 September 1936 P.Simon Buis, SVD menetap di Bali. Ia melanjutkan pembangunan Gereja Tuka.Tanggal 14 Pebruari 1937 Gereja Tuka diberkati dengan nama pelindung Tritunggal Mahakudus.Saat itu, jumlah umat katolik di Bali telah mencapai 145 orang, 89 orang di antaranya adalah orang Bali asli. Tahun 1938 Fr. August de Boer juga tiba di Bali.
Tentang pemberkatan Gereja Tuka P.Simon Buis menulis sebuah laporan berjudul “Blessing of The First Church in Bali yang dimuat dalam Het Soerabaische Handels Blad 19 Pebruari 1937. P.Simon Buis menulis; 14 Pebruari 1937 peserta Konggres Ekaristi di Manila asal Belanda dan Amerika Utara mampir di Bali dan mengunjungi desa Tuka. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk memberkati Gereja Tuka oleh Mgr. Abraham, Uskup Michigan City Amerika Serikat
Tanggal 15 September 1940 P. Simon Buis mendapat ijin dari Raja Bali untuk boleh menempati kawasan Palasari. P. Simon Buis SVD memimpin umat melanjutkan pencarian tempat tinggal baru ke Palasari. Namun ada tiga kepala keluarga yang tetap menetap di Gumbrih dan mereka menjadi cikal bakal Gereja Katolik Gumbrih.Lokasi Palasari tahun 1940 merupakan kawasan hutan Pakung Sente seluas 400 hektar.
Sebelum menetap di Bali P.Simon Buis,SVD mengunjungi Indonesia pada tahun 1919 dan tinggal beberapa waktu di tempat Pater Van Lith di Muntilan. Simon Buis tidak sependapat dengan Pater Van Lith yang mengatakan bahwa yang perlu dalam usaha misi di Indonesia adalah pendidikan. Menurut Simon Buis, selain pendidikan, juga perlu karya social, karya medis dan karya lainnya.(Arsip Ndona,hal.24).
Simon Buis kembali mengunjungi Bali pada tanggal 11 Maret 1932 dan tanggal 21 Juni 1932 dimana ia berusaha mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menempatkan misionaris di pulau Bali dan Lombok seperti yang diberikan kepada misi CMA. 17)

Dr. Rudolf Goris

Tahun 1939 Dr. Rudolf Gories, ahli sejarah dan kebudayaan Bali masuk katolik. Dr. Gories yang pernah mendapat predikat ‘the man of the century’ dari Universitas Leiden ini banyak menulis tentang Bali dan merupakan salah seorang yang bukan orang Bali asli yang menggunakan bahasa Bali secara baik. Sejak menjadi katolik ia banyak mencurahkan perhatian kepada Gereja Katolik Bali. Ia bekerja sama dengan Rev.Dr. Prent dari Jawa menerbitkan kamus Latin – Indonesia.
Doktor Goris lahir tanggal 9 Juni 1898 di Krommenie Provinsi Noord – Holland Belanda dari pasangan Jakobus Goris (ayah) dan and Hilagonda Johanna(Ibu). Ia meninggal di Denpasar pada 4 Oktober 1965 dan dimakamkan di Pekuburan Tegal (sekarang terminal Tegal). Pada tahun 1984 jenasah Dr. Goris dipindahkan ke pekuburan katolik Mumbul Jimbaran.18)
Pemindahan dan penguburan kembali jenasah Dr. Goris dihadiri oleh Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (alm), beberapa dosen dan mantan mahasiswa Dr. R. Goris. Dekan Fakultas Sastra dalam sambutannya pada waktu itu menceritakan tentang riwayat hidup dan riwayat perjuangan Dr. R. Goris dalam bidang keilmuan. Di antaranya dikatakan bahwa Dr. R. Goris selama hidup di Bali ikut merintis berdirinya perpustakaan lontar di Singaraja dan ikut merintis berdirinya Fakultas Sastra di Denpasar (Bali Post)
Selain Dr.Goris yang masuk katolik, seorang tokoh pelayanan medis di Bali Utara (Singaraja) pada tahun 1959 juga masuk katolik. Dia adalah Dr. P Hadiwidjojo.

P. Van der Heijden,SVD

Tahun 1935 Mgr. H.Leven mewujudkan keinginannya menempatkan misionaris di Mataram Lombok yakni Pater Van der Heijden,SVD.Pada tanggal 14 Mei 1935 Pater Van der Heijden,SVD tiba dan menetap di Mataram Lombok. Dan ini menjadi awal karya misi di pulau Lombok. Ia menetap di Mataram untuk melayani umat katolik keturunan Cina, Jawa dan Flores.
Pada Pentekosta 9 Juni 1935 umat katolik pertama dibaptis di Mataram. Tahun 1939 P. H. de Beer,SVD tiba di Mataram Lombok untuk melayani umat di pulau Lombok. Ia mendirikan sekolahKwa Hua untuk umat keturunan Cina dan masyarakat Cina umumnya. 19)
Tahun 1928 dicatat sebagai tonggak sejarah hadirnya agama katolik di Sumbawa karena saat itu sudah ada register permandian. Tahun 1930 Sumbawa dikunjungi oleh Mgr. Verstralen,SVD. Tahun 1935 P.J.Dressers SVD menetap di Sumbawa dan karya yang dilaksanakannya adalah mengajar agama. Tahun 1935 umat katolik di Sumbawa yang telah dibaptis dilayani oleh P.van der Heijden,SVD yang bertugas di Mataram Lombok. 20)

Mgr. Hubertus Hermens,SVD

Tanggal 10 Juli 1950 tahta suci di Roma memisahkan Bali dan Lombok dari Vikaris Apostolik Sunda Kecil dan menjadi Prefektur Apostolik Denpasar. Tahta suci mengangkat Mgr. Hubertus Hermens SVD sebagai Prefektur Apostolik Denpasar. Mgr. Hubertus Hermens,SVD memilih tempat tinggal di Singaraja sejak tahun 1950 sampai beliau diganti oleh Uskup Denpasar Mgr. Dr.Paulus Sani Kleden tahun 1961.
Tanggal 1 Juni 1951 Surat Kantor Misi/Bureau (K.M.B/CMB) Pusat tentang izin luar biasa ex pasal 177 meminta penjelasan apakah ketentuan larangan bagi karya misi di Bali tersebut masih berlaku dalam negara berdaulat Indonesia. Surat ini dikirim kepada Menteri Dalam Negeri Mr. Iskak Tjokrohadisuryo atas usaha Mgr. Hermens, Mgr. Soegyopranata,SJ dan Bapak I.J. Kasimo. Tanggal 25 Juli 1951 Mr. Iskak Tjokrohadisurjo mengirim surat kepada Gubernur Kepala Daerah Sunda Kecil di Singaraja yang mengatakan bahwa pasal 177 I.S.tidak dianggap masih berlaku.
Gubernur Sunda Kecil Mr. Susanto Tirtoprodjo tanggal 15 November 1951 kepada Mgr.Hermens menyebutkan pemerintah tidak berkeberatan mendatangkan pemuka-pemuka agama apa saja ke Bali. Jika rakyat di Bali telah insyaf akan adanya kebebasan beragama maka seyogyanyalah peraturan-peraturan (awig-awig) itu disesuaikan dengan keadaan baru terutama dengan maksud Pancasila yang menjadi dasar pokok Negara kita sekarang.
Dengan dicabutnya larangan misi di pulau Bali dan Lombok, Mgr. Hubertus Hermens,SVD optimis serta dengan semangat berkobar-kobar bekerja keras mendirikan sekolah-sekolah katolik dan klinik-klinik. Beliau percaya bahwa Gereja dapat berkembang di Bali dan Lombok lewat pendidikan dan karya kesehatan. Penduduk asli di kedua pulau ini akhirnya menghargai lembaga-lembaga katolik bukan hanya sebagai pusat-pusat langsung evangelisasi tetapi percaya bahwa Gereja Katolik melayani dan melakukan karya-karya cinta kasih kepada sesama, di mana dan kapan saja. 21)
Mgr. Hubertus Hermens,SVD mulai dengan semangat dan penuh keberanian. Di mana-mana beliau mencari kemungkinan untuk mendirikan sekolah-sekolah dan klinik. Ini membuktikan bahwa lapangan kesehatan penuh kemungkinan bagi Gereja Katolik di Bali dan Lombok, karena itu diteruskan oleh Mgr. Hermens dan dalam beberapa tahun hampir di semua stasi ada klinik ataupun BKIA. 22)
Mgr. Hubertus Hermens,SVD menggembalakan umat Bali dan Lombok dari tanggal 10 Juli 1950 sampai dengan tanggal 2 Januari 1961. Setelah itu ia kembali ke Flores dan mengabdi sebagai pastor paroki serta beberapa tugas lainnya. Tanggal 13 Pebruari 1987 Pater Hubertus Hermens meninggal dunia di RS Lela.

P.Nobert Shadeg,SVD, Dkk

Tahun 1950 misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) datang ke Bali. Mereka adalah Fr. B.Blanken,SVD, Fr. J.Heyne,SVD, Fr. C.van Lersel,SVD, Fr. J.Flaska SVD dan Fr. Nobert Shadeg SVD.
Pada 9 Juli 1953 Romo Nobert Shadeg mendirikan Seminari Menengah Roh Kudus dan sebuah SMP Katolik di Tangeb.Tempat belajar seminari menempati sebagian gedung SMP Tangeb.Dengan demikian dimulai sebuah tempat pesemaian panggilan imam dalam sebuah prefektur apostolik yang usianya masih sangat muda yakni baru 20 tahun.
Pada tahun 1956 Seminari pindah ke Tuka karena telah memiliki gedung sendiri. Banyak orang tidak mengerti keberaniannya mendirikan sebuah sekolah seminari dalam usia gereja yang masih sangat muda.Tetapi Pater Shadeg menjelaskan; “Inilah impian misiologis seorang misionaris untuk menjadi tidak dibutuhkan lagi sesudah gereja local berkembang dan sampai pada suatu tahap otonomi dan kematangan yang memadai. Tahun 1953 merupakan privilese saya untuk membuka sebuah seminari kecil pertama di pulau ini.” 23)
Pater Nobert Shadeg SVD,MA juga menerbitkan buku Bali Pocket Dictionary English-Indonesia-Balinese dan A Balinese Vocabulary, yang telah mengalami beberapa kali cetak ulang.Semua usaha ini sangat dihargai oleh setiap orang yang menaruh perhatian pada Bali. Salah satunya Anak Agung Panji Tisna almarhum, mantan Raja Bali Utara. Ia menulis; “ Pernah di masa lalu ketika saya masih menjadi raja Bali Utara dan menulis novel-novel Bali yang diterbitkan oleh pemerintah, alangkah sulit memahami kehadiran misionaris di pulau ini. Namun tak seorang pun pernah menyangkal penting dan gunanya kontribusi-kontribusi monumental seperti kamus-kamus bahasa Bali yang telah diterbitkan bahkan sekian tahun yanglampau oleh pioneer-pioner Kristen seperti Dr.R.Gories, Dr.Van Eck, Dr. Van der Tuuk dan beberapa karya tentang bahasa bali belakangan ini oleh Dr.J.L.Swellengebel, J.Kersten dan lain-lain.” 24)
Pada tahun 1981, di tengah kesibukan tugasnya, Pater Nobert Shadeg SVD mendirikan Perpustakaan Widya Wahana di Tuka untuk mempromosikan kebudayaan Bali. Di perpustakaan ini terdapat 20.000 buku koleksi tentang agama, antropologi, etnology, seni, bahasa Bali, kebudayaan Bali, sejarah karya misi Bali dan NTB, dan kebudayaan Indonesia umumnya. Setengah dari koleksi buku-buku tersebut sangat berguna sebagai referensi bagi penulisan sejarah misi, sejarah Bali, kebudayaan Bali serta referensi untuk berbagai kegiatan penelitian yang berkaitan dengan Bali.
Romo Nobert Antonius Shadeg, SVD lahir di Minnesota , Amerika Serikat pada 10 Desember 1921. Anak ke-10 dari 14 bersaudara keluarga pasutri Henry-Rosa Shadeg ini sejak kecil memang bercita-cita menjadi pastor. Dalam usia 21 tahun lantas mendaftar masuk Novisiat SVD — salah satu ordo — di Techny , Illinois , AS. Setelah ditahbiskan jadi imam, bersama 13 rekannya Shadeg diutus ke Indonesia . Shadeg menjejakkan kaki di Bali pada 20 Juli 1950 setelah menyinggahi Ujungpandang dan Flores . Ia meninggal dunia pada tanggal 18 Mei 2006 dan dimakamkan di Palasari pada tanggal 10 Mei 2006. Dalam catatan sejarah gereja Bali, Pater Shadeg adalah misionaris terakhir yang rela meninggal di tanah misi Bali.

Mgr.Dr.Paulus Sani Kleden,SVD

Tanggal 3 Januari 1961 Prefektur Apostolik Denpasar (Bali-Lombok) ditingkatkan menjadi Keuskupan Denpasar. Tahta suci mengangkat Mgr.Dr.Paulus Sani Kleden,SVD sebagai uskup Keuskupan Denpasar. Beliau lahir di Larantuka Flores Timur dan ditahbiskan sebagai uskup tanggal 3 Oktober 1961 di Gereja Palasari. Uskup pentahbis (konsekrir) adalah uskup Agung Ende Mgr. Gabriel Manek,SVD sedangkan Mgr. Antonius Thijssen,SVD (Uskup Larantuka waktu itu) dan Mgr. Th. van den Tillaart,SVD (Uskup Atambua waktu itu) selaku Konsekratores.
Uskup-uskup yang hadir pada kesempatan itu adalah Mgr. Djajaseputra, Mgr. Soegiyopranata, Mgr. V.Klooster, Mgr. Albers, Gubernur Bali Anak Agung Sutedja dan pejabat lainnya serta umat yang berdatangan dari Bali dan Lombok. Pater Blanken,SVD menulis; “ Di waktu itu juga banyak imam-imam dari Flores datang dan mereka heran sekali atas kemajuan dan kekuatan Gereja Katolik di Bali/Lombok itu, lebih-lebih dengan ingat bahwa masih muda betul kerajaan Kristus di sini.” 25)
Uskup Paulus Sani Kleden memilih tinggal di Singaraja. Pada akhir tahun 1967 istana keuskupan dipindahkan ke Jalan Rambutan No 27 Denpasar. Beliau berusaha senantiasa agar awam dan hirarkhis menjadi sebuah tim yang bekerja sama.Tokoh awam Dr.R.Gories yang sebelumnya sangat menentang kekristenan di Bali dan bertobat tahun 1939 adalah tokoh serba tahu tentang adat kebiasaan dan agama Hindu Bali. Ia memberikan perhatian besar terhadap Gereja Lokal Keuskupan Denpasar.
Di awal masa tugas Uskup Paulus Sani Kleden, sebuah peristiwa penting diselenggarakan di Bali yang membuka kembali akses dialog antara umat Kristen protestan dan katolik. Dewan Gereja Indonesia (DGI) menyelenggarakan seminar tanggal 9 –15 Desember 1971 dengan tema ‘Our Task in National Development Under Pancasila Trough Dialogue, Mutual Cooperation and Common Effort. Dari pihak katolik hadir Mgr.Paulus Sani Kleden,SVD dan P.N.Shadeg yang turut memberikan ceramah.
Dalam dialog ini terungkap berbagai halangan dalam dialog antar umat beragama, secara khusus dengan agama Hindu yakni; Ketegangan antar umat beragama terjadi karena pertobatan orang-orang Bali asli kepada agama Kristen, kekurangan pengetahuan dari kedua belah pihak tentang agama masing-masing, kekurangan orang berkasta dalam umat Kristen, ketegangan terjadi setelah kedudukan desa-desa adat diperkokoh oleh pemerintah daerah, dan kesulitan membangun rumah ibadat. 26)
Dalam sepuluh tahun masa kegembalaan Uskup Paulus Sani Kleden,SVD karya pendidikan dan kesehatan terus ditingkatkan di samping karya-karya sosial lainnya. Pertambahan umat terus terjadi.Sampai tahun 1971 jumlah umat di Keuskupan Denpasar tercatat 7.996 orang dan 245 katekumen. Hasil penelitian sosiopastoral yang dilakukan Romo Franco Zocca (1989) dalam kurun waktu 1961-1971 jumlah umat katolik di Bali dan Lombok paling kecil. Bali dan Lombok yang sering disebut sebagai ‘Pulau Kembar’ sangat berbeda komposisi penduduk menurut agama. Bali dengan mayoritas Hindu dan Lombok dengan mayoritas Islam. Sedangkan umat Kristen (katolik dan Protestan) kalaupun digabung tak mencapai 1 persen dari penduduk. Romo Zocca menyebut kondisi ini sebagai; Beberapa tetes air dalam lautan umat Hindu dan Islam.27)
Di tengah sidang Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI kini KWI) tanggal 28 November 1971 Mgr.Dr. Paulus Sani Kleden,SVD meninggal dunia di Jakarta. Beliau dimakamkan di Jakarta. Namun jasad Mgr. Paulus Sani Kleden kemudian dimakamkan kembali di Palasari pada tanggal 23 September 1980

Mgr. Antonius Thijssen,SVD

Tanggal 12 Januari 1973 Mgr.Antonius Tjisen,SVD diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar. Mgr. Tijssen lahir di Baarle Belanda 26 Mei 1906 dan tanggal 8 September 1925 masuk novisiat SVD di Helvoirt Belanda. Mengucapkan kaul kekal sebagai biarawan SVD tahun 1931 dan tanggal 31 Januari 1932 ditahbiskan sebagai imam. Tahun 1932 – 1934 mengajar di Seminari Menengah Uden Belanda.
Tahun 1934 ia tiba di Indonesia dan berkarya di Larantuka sampai tahun 1937. Ia dipercayakan sebagai dosen dan prefek Seminari Tinggi pertama di Mataloko, yang kemudian pindah ke Ledalero pada tahun 1938. Tugas ini diembannya sampai tahun 1942.Tahun 1942-1945 ia ditawan Jepang dan dipenjarakan di Makasar Sulawesi selatan. Tahun 1946 ia kembali ke Flores dan bertugas sebagai dosen dan prefek Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
Tahun 1947 ia diangkat menjadi regional wilayah Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba dan Flores. Tanggal 3 Mei 1951 ia diangkat oleh Tahta Suci sebagai Uskup Ende. Tanggal 3 Januari 1961, Mgr. Antonius Tijsen, SVD dipindahkan ke Larantuka sebagai Uskup Larantuka. Dan sejak 12 Januari 1973 sampai 1981 diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar.
Dalam memimpin Keuskupan Denpasar Mgr. Tijssen menghadapi banyak tantangan baik dari dalam Gereja sendiri maupun dari luar. Dari dalam gereja sendiri misalnya kerja sama dengan pembantu-pembantu yakni pastor. Dari luar misalnya dengan pemerintah dan penganut-penganut agama lain.Uskup Thjisen sangat mendorong para imam untuk belajar bahasa Bali dan Sasak, memperdalam agama, kesenian dan kultur daerah setempat.
Di masa kegembalaan Mgr. Thjisen karya pendidikan dan kesehatan juga terus ditingkatkan. Pembangunan gereja dan kapel pun dilakukan.Usaha untuk membangun Gereja Katedral dimulai pada masa kegembalaan Mgr. Antonius Tijssen, SVD. Pada tahun 1961, Mgr. Paulus Sani Kleden,SVD telah membeli tanah seluas satu hektar berlokasi di Jl. PB Sudirman, sebelah selatan Fakultas Ekonomi Udayana. Tahun 1976 Mgr. Antonius Tijssen, telah membentuk panitia pembangunan Gereja Katedral, namun isu yang berkembang saat itu adalah Pemerintah mengambilalih tanah dimaksud untuk tujuan pengembangan Universitas Udayana.
Tanggal 6 September 1976 Mgr. Antonius Tijsen,SVD menulis surat kepada Rektor Universitas Udayana meminta penjelasan sekaligus ganti rugi atas tanah dimaksud.Tanggal 15 September 1976 Mgr. Antonius Tijssen,SVD mengajukan permohonan kepada Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali untuk mendapatkan persetujuan pembangunan Gereja Katedral di daerah Civic Centre Daerah Tingkat I Bali, pada lokasi kebudayaan.Tanggal 1 April 1978, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Badung I.D.G. Oka menulis surat kepada Kepala P.U. Kabupaten Badung di Denpasar yang menjelaskan tentang pembebasan tanah gereja katolik untuk perluasan kampus Universitas Udayana.
Rencana pembangunan Gereja Katedral tidak dilanjutkan karena kesulitan mendapatkan ijin dari pemerintah. Sampai Mgr. Antonius Tijssen,SVD menyerahkan tongkat kegembalaan kepada penggantinya Mgr. Vitalis Djebarus,SVD, pembangunan Gereja Katedral belum terwujud. 28)
Tanggal 7 Juni 1982 Mgr. Anton Tijssen,SVD meninggal di RKZ Vinsensius Surabaya dan tanggal 9 Juni 1982 dimakamkan di Palasari. Mgr.Tijssen seorang misionaris besar, besar dalam karya, besar dalam cinta, besar dalam doa dan besar dalam penderitaan.

Mgr.Vitalis Djebarus,SVD

Mgr. Vitalis Djebarus,SVD lahir di Wangkung, Manggarai, Flores tanggal 26 Pebruari 1929. Tanggal 14 Januari 1959 ditahbiskan sebagai imam Serikat Sabda Allah. Tanggal 17 Maret 1973 Tahta Suci mempercayakannya sebagai Uskup Keuskupan Ruteng menggantikan Mgr. Wihelmus van Bekkum,SVD. Tanggal 5 Mei 1973 ditahbiskan sebagai Uskup Ruteng. Tanggal 13 Januari 1981 dilantik sebagai Uskup Keuskupan Denpasar menggantikan Mgr. Antonius Tijssen,SVD yang mundur karena alasan kesehatan.Di masa kegembalaannya karya pendidikan, kesehatan dan karya social menjadi perhatian. Pada 24 November 1990, Gereja di pulau Sumbawa yang sebelumnya masuk dalam wilayah gerejani Keuskupan Weetebula digabungkan dengan wilayah gerejani Keuskupan Denpasar. Serah terima dilakukan antara Uskup Denpasar Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dan Uskup Weetebula Mgr. Kherubim Pareira,SVD. 29)
Di masa kegembalaan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD telah diterbitkan buku-buku baik ditulis oleh Mgr. Vitalis Djebarus,SVD maupun oleh Dr.Herman Embuiru,SVD. Buku-buku yang diterbitkan adalah; Pancasila,Asal, Isi dan Makna, Kemahakuasaan dan Pikiran Alam Bawah sadar, Agama sebagai Persekutuan dengan Allah, Unsur-unsur Kebudayaan, Sengsara Kristus, Catatan Ketangkasan Berpidato, Kehidupan Kekal, Gereja Kesayanganku, Keluarga Kristen, Piagam Tahta Suci tentang Hak-Hak Asasi Manusia, Homiletik, Catatan yang Berpengaruh, Maria Pengurai Simpul, Penyalur Berkat dan Tuhanlah Perisaiku. 30)
Pada tanggal 25-28 Juni 1991 diselenggarakan Pertemuan Pastoral I Keuskupan Denpasar dirumah retret Tegaljaya yang berhasil merumuskan arah, visi dan misi keuskupan. Visi baru yakni Persekutuan Umat Beriman yang Berdaya Pikat karena Pengabdiannya Demi Kemuliaan Tuhan.
Dengan arah, visi dan misi baru Gereja Katolik Keuskupan Denpasar menata diri dengan membentuk badan-badan atau bidang-bidang kegiatan sesuai dengan kebutuhan umat dan tantangan yang dihadapi. Realisasi dan penghayatan visi dasar tersebut dilakukan lewat karya-karya para anggota baik perorangan maupun bersama, dengan semangat yang memancarkan Visi Dasar tersebut. Karya-karya yang dilakukan oleh para anggota itu harus berdaya pikat, dengan semangat pengabdian dan demi kemuliaan Tuhan. Karya-karya itu ialah; Pewartaan, Pelayanan, Kebaktian, Kesaksian dan lain-lain atau secara terperinci meliputi bidang; Katekese, Liturgi, Komunikasi, Kerasulan Kitab Suci, Kepemudaan, Organisasi dan Sosial Karitatif. 31)
Salah satu rekomendasi penting peserta Pertemuan Pastoral I di Tegaljaya 25-28 Juni 1991 adalah perlunya dibentuk wadah atau sarana pastoral Keuskupan Denpasar dengan nama; Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar.Pusat Pastoral ini dilengkapi dengan komisi-komisi yakni Komisi Liturgi, Kateketik, Kitab Suci, Kepemudaan,Seminari, Hubungan antar Agama & Kepercayaan, Karya Kepausan Indonesia, Pariwisata, Kerasulan Awam, Pengembangan Sosial Ekonomi, Majelis Pendidikan Katolik, Komunikasi Sosial, dan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia.
Pada Pertemuan Pastoral II Keuskupan Denpasar yang berlangsung tahun 1994 berbagai kegiatan pastoral Keuskupan Denpasar selama tiga tahun dievaluasi kembali. Pertemuan Pastoral III Keuskupan Denpasar tahun 1997, Visi dan Misi Keuskupan Denpasar diperbaharui. Visi dasar Keuskupan Denpasar adalah Persekutuan Umat Beriman yang berpusat pada Kristus, yang berkualitas dan berdaya pikat karena kesaksian hidupnya diutus untuk menyelamatkan manusia dalam kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik membangun Kerajaan Allah demi kemuliaan Tuhan.
Di masa kegembalaan Mgr. Vitalis Djebarus SVD, pembangunan Gereja Katedral Denpasar mulai diwujudkan. Tahun 1985 Bupati Badung I.D.G.Oka telah mengeluarkan ijin prinsip pembangunan Katedral.Ijin prinsip tersebut tertuang dalam Surat Nomor:451.2/891/Kesra tanggal 11 Pebruari 1985. Ijin prinsip ini dikeluarkan setelah Ketua Panitia Pembangunan Gereja Katedral P.Servas Subhaga,SVD mengajukan permohonan melalui surat tertanggal 10 April 1984 No.14/DP/IV/1984. 32)
Berbagai upaya dilakukan sejak tahun 1992 untuk bisa mendapatkan Ijin Prinsip Pembangunan Gereja Katedral dari Gubernur Bali. Meskipun pembangunan Katedral Denpasar belum seluruhnya rampung namun sejak Januari 1998 dengan persetujuan Uskup Denpasar Mgr. Vitalis Djebarus,SVD, Gereja Katedral sudah dapat dipakai. Umat yang sebelumnya merayakan misa di gedung Komsos Jalan PB Sudirman dapat merayakan misa kudus setiap hari Minggu di Katedral.
Pada tanggal 12 Desember 2000 Surat Ijin Prinsip pembangunan Gereja Katedral Denpasar diterbitkan oleh Gubernur Bali Dewa Made Beratha yang intinya melegalisir surat ijin prinsip Nomor 451.2/891/Kesra tanggal 11 Pebruari 1985 yang diterbitkan oleh Bupati Badung I Dewa Gede Oka. Surat Ijin Prinsip Gubernur itu bernomor 454.2/8053/Binsos tanggal 12 Desember 2000.
Tahun 1996 kesehatan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD mulai menurun.Tanggal 22 September 1998 Uskup Denpasar Mgr.Vitalis Djebarus,SVD wafat di RS Katolik Sint Carolus Jakarta. Jenasahnya dibawa ke Denpasar dan tanggal 24 September 1998 dimakamkan di Palasari. Sejak itu tahta keuskupan Denpasar dinyatakan lowong.
Kepemimpinan gerejawi di Keuskupan Denpasar dijalankan Administrator Diosesan Romo Hubertus Hadi Setyawan,Pr, yang juga Vikaris Jenderal Keuskupan Denpasar semasa kepemimpinan Uskup Vitalis Djebarus.Selama dua tahun umat katolik Keuskupan Denpasar berdoa meminta seorang gembala untuk memimpin keuskupan ini.

Romo Hubertus Hady Setiawan,Pr

Romo Hubertus Hady Setiawan,Pr lahir di Cimacan, Jawa Barat tanggal 1 Juli 1954. Setelah menamatkan seminari menengah di Stella Maris Bogor, ia masuk noviat OFM (Ordo Fratrum Minorum) atau dikenal sebagai Fransiskan di Yogyakarta. Studi filsafat diselesaikannya di STF Driyarkara Jakarta. Ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Borong-Manggarai- Flores, lalu melanjutkan studi studi teologi di Kentungan Yogyakarta.
Enam bulan sebelum kaul kekalnya, ia memutuskan keluar dari OFM. Selama dua tahun ia bekerja selama di Kantor Wali Gereja Indonesia.Tahun 1984 ia tiba di Seminari Tuka sebagai Prefek (pamong) SMA Seminari. Bersama Br. Markus Rodjasuka SVD yang bertugas sebagai pamong SMP, ia mulai menata kehidupan dan fasilitas Seminari Tuka.
Tanggal 15 Agustus 1986, ia ditahbiskan imam di Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD. Setahun kemudian ia diangkat sebagai Rektor Seminari Roh Kudus menggantikan Rm. Marsel Myarsa, Pr. Ia mengabdi di seminari itu selama 17 tahun yang berakhir pada tahun 2001Selain tugas di Seminari Romo Hady juga mengemban tugas antara lain sebagai Vikjen Keuskupan Denpasar baik pada masa kegembalaan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD maupun pada masa kegembalaan Mgr. Benyamin Yosef Bria,Pr. Ia juga mendapat tugas sebagai Ketua Pelaksana Pusat pastoral Keuskupan Denpasar. Saat ini Romo Hady bertugas sebagai Kepala Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta dan Ketua pelaksana Pusat Pastoral keuskupan Denpasar.
Ketika Uskup Denpasar Mgr. Vitalis Djebarus,SVD meninggal tanggal 22 September 1998 tahta keuskupan Denpasar dinyatakan lowong. Untuk memimpin keuskupan diangkat seorang administrator keuskupan dan Romo Hubertus Hady Setiawan,Pr dipercayakan untuk memngemban tugas itu sejak 22 September 1998 sampai dengan 5 Agustus 2000. 33)

Mgr.Dr.Benyamin Yosef Bria,Pr

Tanggal 18 April 2000 Paus Johanes Paulus II mengangkat Romo Benyamin Y Bria,Pr, imam praja dari Keuskupan Atambua. Berita pengangkatan beliau disampaikan oleh Mgr.Renzo Fratini, Duta Vatikan untuk Indonesia. Kabar pengangkatan itu disebarluaskan di seluruh gereja paroki pada misa malam Kamis Putih 20 April 2000.Bulla pengangkatan Mgr. Benyamin Y Bria,Pr ditetapkan tanggal 14 April 2000.
Mgr. Dr. Benyamin Y Bria,Pr lahir di Oekabiti, Paroki Seon, Kabupaten Belu 7 Agustus 1956. Menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Katolik Aero Paroki Seon 1964 – 1969, SMPK Oelolok Paroki Kiupukan 1970-1971, SMPK Seon 1972-1973, Seminari Menengah Lalian 1973-1976, Seminari Tinggi St.Petrus Ritapiret 1977-1984. Tahun 1977 masuk Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Ritapiret, 1978-1981 studi filsafat di STFK St.Paulus Ledalero, 1982 Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Lalian dan 1983 – 1984 studi teologi. Tanggal 28 Oktober 1984 ditahbiskan sebagai diakon di Ritapiret dan tanggal 29 Juni 1985 menerima urapan imamat di Katedral Atambua oleh Mgr. Anton Pain Ratu SVD.
Setelah berkarya sebagai pastor pembantu di Paroki St. Theresia Kefamenanu 1985-1986 dan staf pengajar di Seminari Lalian tahun 1987, melanjutkan studi Hukum Gereja di Sint Paul University of Amerika, Washington DC untuk tingkat lisensiat tahun 1988-1990. Tahun 1990-1993 studi Hukum Gereja di Sint Paul University Ottawa Canada untuk tingkat doctor.
Tahun 1995-1998 dipercayakan sebagai ketua Unio imam praja Keuskupan Atambua, 1995-2000, ketua panitia keadilan dan perdamaian Keuskupan Atambua, 1998-2000, Vikaris Yudisial Keuskupan Atambua, Hakim Tribunal Perkawinan Keuskupan Atambua, Dosen Hukum Gereja di Fakultas Filsafat Agama Universitas Widya Mandira Kupang, anggota Dewan Imam/Dewan Konsultores Keuskupan Atambua, 1999-2000 Vikaris General Keuskupan Atambua.
Uskup Dr.Benyamin Y Bria,Pr merefleksikan panggilan dan perutusannya secara mendalam dalam motto FIAT VOLUNTAS TUA, Jadilah KehendakMu, meneladani sikap Bunda Maria yang menanggapi kabar gembira yang disampaikan Malekat kepadanya. 34)
Setelah diumumkan serentak di seluruh paroki pada malam perayaan misa Kamis Putih 20 April 2000, umat Keuskupan Denpasar mempersiapkan tahbisan Uskup baru. Tahbisan Uskup Denpasar Mgr. Benyamin Y Bria,Pr berlangsung di Gereja Katedral Denpasar Jalan Tukad Musi No 1 dengan Uskup Pentahbis, Mgr. Anton Pain Ratu,SVD (Uskup Atambua), Mgr. Abdon Longinus da Cunha, Pr (Uskup Agung Ende) dan Mgr. H.Y. Sahadat Pandoyoputra, O’Carm (Uskup Malang). 35)
Uskup-uskup yang hadir adalah Uskup Agung Jakarta Yulius Kardinal Darmaatmadja,SJ, Uskup Larantuka Mgr. Darius Nggawa, SVD, Uskup Agung Kupang Mgr. Piet A Turang, Pr, Uskup Weetebula Mgr. Kherubim Pareira,SVD, Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Uskup Amboina Mgr. P.C.Mandagi MSC, Uskup Banjarmasin Mgr. F.X.Prajasuta, MSF, Uskup Bogor, Mgr. Mikhael Angkur,OFM, Uskup Manado yang juga Ketua KWI Mgr. Josephus Th.Suwatan MSC, Uskup Surabaya yang juga Sekjen KWI Mgr. Yohanes Hadiwikarta,Pr Uskup Sintang Mgr. Agustinus Agus Pr, Uskup Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCY, Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak,SVD, Uskup Samarinda Mgr. Florentinus Sului MSF, Uskup Agung Pontianak Mgr. Hironimus Bumbun,OFM.Cap, Uskup Tanjung Karang Mgr. A.Henrisusanta, SCY dan Uskup Bandung Mgr. A Djajasiswaja,Pr. 36)
Dimasa kegembalaan Mgr.Benyamin telah diselenggarakan dua kali Sinode Keuskupan.Setelah lima bulan melaksanakan tugas kegembalaan di Keuskupan Denpasar, Mgr. Benyamin Y Bria,Pr bersama klerus, biarawati dan kaum awam Keuskupan berkumpul di Rumah Retret Tegal Jaya tanggal 8 – 11 Januari 2001 dalam suatu pertemuan yang disebut Sinode dengan tema: Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi yang Inklusif dalam Milenium Baru. Pertemuan itu lalu lebih dikenal sebagai Sinode I Keuskupan Denpasar. Sinode I ini merupakan pertemuan untuk melakukan evaluasi terhadap karya-karya pastoral yang telah dilaksanakan selama 1997-2000 dan berdasarkan evaluasi tersebut menentukan Arah Karya Pastoiral Keuskupan Denpasar 2001-2005.
Hasil-hasil Sinode I Keuskupan Denpasar ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskup DenpasarNo : 02 Tahun 2001 tentang Penetapan Arah Karya Pastoral Keuskupan Denpasar Tahun 2001-2005 tanggal 13 Januari 2001. Hasil-hasil Sinode I Keuskupan Denpasar 2001 mencakup; Arah, Visi dan Misi, Strategi Pemberdayaan Komunitas Basis dan Prioritas Program-Program.
Arah Karya Pastoral Keuskupan Denpasar 2001 – 2005 adalah; Menuju Gereja Umat dengan Gaya Pastoral Membangun Komunitas Basis Gerejawi yang Inklusif dalam Milenium Baru. Visi Dasar Keuskupan Denpasar; Keuskupan Denpasar adalah persekutuan umat beriman kristiani yang inklusif demi pembangunan kerajaan Allah. Misi Keuskupan Denpasar; Membangun persekutuan umat beriman kristiani yang inklusif dan dinamis dalam keluarga, komunitas basis gerejawi dalam kehidupan paroki di Keuskupan Denpasar,Membentuk insane kristiani berkualitas dengan memberantas ketidaktahuan, kemelaratan, ketidaksehatan, ketidakberagamaan dan ketidakadilan, Memperteguh iman kristiani umat yang bersumber pada kitab suci, tradisi gereja dan ajaran gereja sambil memperhatikan kebudayaan-kebudayaan setempat, Melibatkan diri dalam pelayanan keluarga, kaum muda danb masyarakat luas serta pembangunan jemaat yang memasyarakat, Membangun kerjasama dan menggalang dialog kehidupan dan karya dengan semua orang yang berkehendak baik, golongan dan pemerintah, Mewujudkan kerajaan Allah dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dasar kristiani; cinta kasih, kejujuran, kesatuan, kerukunan, keadilan, pengorbanan, kesetiaan, persaudaraan, kebijaksanaan, kerendahan hati, dapat dipercaya dan saling percaya dan mencintai lingkungan, Menghargai kesetaraan kedudukan pria dan perempuan yang didasari oleh nilai-nilai kristiani. 37)
Sinode II Keuskupan Denpasar diselenggarakan pada tanggal 20 – 24 November 2006 di Rumah Khalwat Tegaljaya. Hasil Sinode ditetapkan dalam keputusan Uskup Denpasar No.459/KDPS/DES/2006 tentang Penetapan Arah, Visi dan Misi Karya Pastoral Keuskupan Denpasar Periode Tahun 2007-2011.
Sinode II Keuskupan Denpasar berhasil menetapkan; Arah: “Menuju Gereja yang Transformatif”. Visi:”Keuskupan Denpasar Sebagai Persekutuan Umat Beriman Kristiani Berjuang Mewujudkan Kerajaan Allah Melalui Komunitas Basis Gerejawi yang Transformatif”.
Misi: (1) Membangun persekutuan umat beriman kristiani melalui Komunitas basis Gerejawi yang transformative, (2) Membentuk insan kristiani yang tangguh melalui pendidikan nilai kristiani antara lain; kasih, solidaritas, kebersamaan, kerendahan hati, kejujuran, keterbukaan, kesetaraan, keadilan, kebenaran, damai dan sukacita. (3) Memperteguh iman kristiani umat yang bersumber pada kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja (magisterium) yang mengakar pada kebudayaan setempat.(4) Mendampingi keluarga kristiani, anak-anak, perempuan, orang muda dan lansia melalui katekese yang berkelanjutan.(5) Membangun kerukunan hidup bermasyarakat dengan pemerintah dan umat beragama lain melalui dialog kehidupan dan dialog karya. (6) Memprioritaskan paroki yang belum mandiri dari segi ekonomi, orang miskin, penyandang cacat, perantau melalui gerakan bsolidaritas dan pemberdayaan ekonomi. (7) Memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender yang didasari oleh nilai-nilai kristiani.(8) Membina kepemimpinan pastoral secara berkelanjutan melalui program yang terencana dan terpadu.(9) Mengembangkan perencanaan strategis pastoral di tingkat Keuskupan, Dekenat dan Paroki.38)
Pada masa kegembalaannya dari Agustus 2000 – September 2007 Uskup Benyamin Yosef Bria,Pr telah mengunjungi semua paroki di wilayah Keuskupan Denpasar (Bali, Lombok dan Sumbawa) bahkan mengunjungi umat katolik asal Paroki Tuka dan Palasari yang bertransmigrasi di Tolai Sulawesi Tengah. Uskup Benyamin juga berusaha untuk melanjutkan pembangunan Gereja Katedral Roh Kudus serta membangun Rumah keuskupan di Jalan Tukad Balian Denpasar.
Pada 18 September 2007 Mgr. Benyamin meninggal di Singapura dan dimakamkan di Palasari pada tanggal 22 September 2008. Dengan meninggalnya Mgr.Benyamin Yosef Bria,Pr maka tahta keuskupan Denpasar dinyatakan lowong.

P.Yosef Casius Wora,SVD

Untuk memimpin Keuskupan Denpasar selama tahta lowong diangkat seorang administrator keuskupan dan P.Yosef Casius Wora,SVD dipercayakan sebagai Administrator Keuskupan sejak 18 September 2007 sampai 18 Pebruari 2009.
Lahir di Ruteng pada tanggal 18 Oktober 1958 P.Yosef Casius Wora,SVD menyelesaikan SMP dan SMA Seminari St. Pius Kisol Manggarai tahun 1980 kemudian masuk novisiat SVD di Seminari Tinggi Ledalero tahun 1980. Belajar filsafat teologi di STFK Ledalero tahun 1982-1987, kaul pertama 1 Agustus 1982, dan kaul kekal 1 Agustus 1987. Tahbisan diakonat tanggal 3 November 1987 di Seminari Tinggi Ritapiret oleh Mgr. Gregorius Monteiro,SVD dan tahbisan imam tanggal 29 Juli 1988 di Maumere oleh Mgr. FX Van Roesel,CICM.
Dengan moto tahbisan “Jangan Takut Aku Menyertaimu”, P.Yosef mulai berkarya sebagai Pastor Pembantu Paroki Palasari Bali tahun 1988-1989 dan pada tahun 1989-1998 menjadi pastor ParokiPalasari. Tahun 1999-2001 berkarya sebagai Pastor Pembantu Paroki Katedral Roh Kudus Denpasar dan tahun 2001-2007 menjadi Pastor Paroki Katedral. Tahun 2001-2007 juga mengemban tugas sebagai Deken Bali Timur. Ia juga anggota Komisi Kerasulan Kitab Suci Provinsi Jawa tahun 2002-2005 dan anggota Dewan Imam Keuskupan denpasar tahun 2001-2007. 39)
Sejak tanggal 18 September 2007 P.Yosef Casius Wora,SVD memimpin Keuskupan Denpasar dan bersama-sama dengan umat berdoa mohon seorang uskup baru. Doa yang akhirnya terjawab dengan terpilihnya Mgr.Dr.Silvester San,Pr.

No comments:

Post a Comment